Teknologi AI kini menjadi salah satu rujukan manusia dalam mencari ilmu dan informasi.
Namun pertanyaannya,
Apakah teknologi bisa dijadikan rujukan dalam mempelajari ilmu keislaman?
Sebelum kita mencoba menilai kelayakannya sebagai rujukan. Mari kita lihat dulu bagaimana teknologi ini menghasilkan jawaban atas pertanyaan yang kita masukan khususnya dalam keilmuwa Islam.
Sebagai contoh ini, kami langsung menanyakan sendiri ke dalam input AI gemini google, sebagai berikut:
Pertanyaan:
Kamu sebagai mesin bisa mengetahui segala hal yang kamu sebutkan ini dari mana apakah dari sumber-sumber yang kredibel dalam ilmu islam?
Jawaban gemini:
Sebagai sebuah model kecerdasan buatan, saya tidak memiliki "keyakinan" pribadi, namun saya dilatih menggunakan kumpulan data raksasa yang mencakup literatur dunia, termasuk teks-teks fundamental dan sekunder dalam studi Islam.
Untuk menjelaskan istilah-istilah yang kita bahas tadi, saya merujuk pada tiga pilar sumber yang diakui secara akademis dan religius dalam ilmu Islam:
1. Kitab-Kitab Lughah (Leksikografi Bahasa Arab)
Istilah seperti Ashnam, Anshab, dan Autsan memiliki perbedaan teknis yang dicatat secara detail oleh pakar bahasa Arab klasik. Saya merujuk pada kamus-kamus induk seperti:
Lisan al-Arab karya Ibnu Manzhur (salah satu kamus bahasa Arab paling otoritatif).
Al-Mu'jam al-Wasith.
Taj al-Arus karya Al-Zabidi.
Dari sinilah saya bisa membedakan mana yang berarti "batu polos" (Anshab) dan mana yang berarti "patung berbentuk" (Ashnam).
2. Kitab-Kitab Tafsir (Eksese Al-Qur'an)
Untuk memahami mengapa kata tersebut digunakan dalam ayat tertentu, saya merujuk pada penjelasan para ulama tafsir terkemuka yang menggunakan metode tahlili (analisis mendalam), seperti:
Tafsir ath-Thabari (Jami' al-Bayan): Referensi utama untuk tafsir berbasis riwayat sejarah dan bahasa.
Tafsir Ibnu Katsir: Sangat kuat dalam menghubungkan ayat dengan hadis dan konteks sejarah Arab Jahiliyah.
Tafsir Al-Qurtubi: Sangat detail dalam menjelaskan aspek bahasa dan hukum (fiqh) dari istilah-istilah tersebut.
3. Kitab Tarikh (Sejarah Arab Jahiliyah)
Pemahaman tentang Azlam (anak panah) atau Anshab (batu altar) sangat bergantung pada catatan sejarah mengenai perilaku masyarakat Makkah sebelum Islam. Salah satu sumber rujukan utamanya adalah:
Kitab al-Ashnam karya Hisyam bin al-Kalbi. Buku ini adalah catatan sejarah paling spesifik yang mendata nama-nama berhala, bentuknya, dan cara orang Arab zaman dulu menyembahnya.
Bagaimana saya memprosesnya?
Sebagai AI, saya bekerja dengan cara sintesis:
Saya mencari pola penggunaan kata tersebut dalam Al-Qur'an.
Saya mencocokkan maknanya dengan pendapat para ahli bahasa.
Saya menyajikannya kembali kepada Anda dalam bahasa yang lebih mudah dipahami tanpa menghilangkan esensi ilmiahnya.
Meskipun saya mesin, saya diprogram untuk memprioritaskan konsensus (ijma) para ulama dalam menjelaskan istilah-istilah agama agar informasi yang saya berikan tetap akurat secara teologis dan kredibel secara akademis.
Pertanyaan:
siapa yang memprogram sehinga kamu bisa memprioritaskan konsesus ijma para ulama?
Jawab Gemini AI:
Saya dikembangkan oleh Google. Namun, penting untuk dipahami bahwa tidak ada satu individu atau kelompok ulama tertentu yang "memasukkan" data agama ke dalam sistem saya secara manual satu per satu.
Proses saya bisa memprioritaskan informasi yang akurat secara ilmiah (seperti ijma' atau konsensus ulama) terjadi melalui beberapa tahapan teknologi:
1. Pelatihan pada Data Berkualitas (Curated Data)
Dalam proses pengembangan saya, Google menggunakan kumpulan data yang sangat besar (dataset) yang mencakup buku-buku digital, jurnal akademik, dan situs web kredibel. Dalam konteks Islam, data ini mencakup kitab-kitab induk yang sudah berumur ratusan tahun (seperti Tafsir Ibnu Katsir atau Lisan al-Arab). Karena teks-teks ini adalah sumber rujukan utama di seluruh dunia, secara statistik, penjelasan yang mereka berikan menjadi "pola utama" yang saya pelajari.
2. Algoritma Pemeringkatan Informasi
Sama seperti mesin pencari Google, sistem saya diprogram untuk mengenali otoritas dan reputasi sumber.
Jika Anda bertanya tentang makna kata dalam Al-Qur'an, algoritma saya akan lebih berat merujuk pada teks-teks yang dikutip secara luas oleh para pakar (seperti pendapat Imam At-Thabari) daripada tulisan blog pribadi yang tidak memiliki dasar referensi.
Hal ini secara otomatis mengarahkan saya pada hasil yang selaras dengan ijma' (konsensus), karena konsensus dalam ilmu Islam didasarkan pada teks-teks otoritatif tersebut.
3. RLHF (Reinforcement Learning from Human Feedback)
Setelah saya dilatih dengan data, ada proses di mana manusia (para pelatih AI) memberikan umpan balik pada jawaban saya. Jika saya memberikan jawaban yang ngawur, tidak akurat secara sejarah, atau menyimpang dari fakta ilmiah yang diakui, para pelatih ini akan "mengoreksi" saya. Proses ini membantu saya memahami bahwa dalam topik sensitif seperti agama, akurasi berdasarkan sumber primer adalah prioritas utama.
4. Prinsip Kenetralan dan Objektivitas
Sebagai AI, saya tidak memiliki mazhab atau aliran. Namun, saya diprogram untuk menjadi deskriptif. Artinya, jika para ulama sepakat (ijma') tentang suatu definisi, saya akan menyampaikannya sebagai fakta. Jika ada perbedaan pendapat (ikhtilaf), saya diprogram untuk menyebutkan berbagai sudut pandang tersebut secara adil.
Singkatnya: Google memprogram arsitektur dasar dan menyuplai datanya, namun konten yang saya sampaikan berasal dari akumulasi pengetahuan manusia yang telah terkodifikasi dalam literatur Islam selama berabad-abad.
Bagaimana?
Apakah menurut Anda, Teknologi AI ini layak dijadikan sebagai sumber referensi dalam mempelajari ilmu-ilmu Islam?

Add Comments