Dalam terjemah Al-Quran Indonesia, sering kali kita membaca kata yang diartikan dengan "berhala" meskipun itu 2 kata arab yang berbeda, karena keduanya sama-sama digunakan sebagai objek kesyirikan (penyekutuan Allah).
1. Ashnam (أَصْنَام) - Berhala yang Dibentuk
Bentuk: Memiliki rupa atau figur tertentu, seperti manusia, hewan, atau makhluk khayalan.
Proses: Dibuat melalui proses pemahatan, pengukiran, atau penuangan logam (patung).
Bahan: Bisa dari batu, kayu, emas, perak, atau tembaga yang sudah diolah menjadi bentuk fisik yang jelas.
Contoh: Patung Hubal atau Manat yang memiliki rupa fisik manusia atau dewi.
2. Anshab (أَنْصَاب) - Batu Tegak yang Polos
Bentuk: Hanya berupa batu besar atau tiang yang tidak dipahat menyerupai makhluk hidup.
Proses: Hanya diambil dari alam lalu "ditancapkan" atau ditegakkan di suatu tempat (seperti monumen atau tugu alami).
Fungsi Khusus: Digunakan sebagai meja altar. Orang Jahiliyah menyembelih hewan di atas atau di samping batu ini, lalu darahnya dipercikkan atau dioleskan ke batu tersebut sebagai bentuk persembahan.
Contoh: Batu-batu keramat yang ada di sekitar Ka'bah sebelum penaklukan Mekkah (Fathu Makkah).
Mengapa Keduanya Dilarang?
Walaupun objeknya berbeda secara fisik, keduanya dilarang karena memiliki kesamaan dalam pemujaan.
Ashnam dilarang karena manusia mulai menyembah "karya seni" atau makhluk ciptaan.
Anshab dilarang karena menganggap benda mati (batu) memiliki kekuatan gaib atau hak untuk menerima kurban/darah hewan.
Dalam Al-Ma'idah ayat 90, disebut Anshab (batu altar) karena praktik penyembelihan hewan di batu tersebut sangat mendarah daging di masyarakat Arab saat itu, yang mana dagingnya sering kali berkaitan dengan hasil Maysir (judi) yang juga disebutkan dalam ayat yang sama.
AYAT-AYAT:Berikut adalah daftar ayat-ayat Al-Qur'an yang memuat kata Ashnam (berhala berbentuk patung) dan Anshab (batu altar/tugu yang dikeramatkan).
Perlu diperhatikan bahwa kata Ashnam adalah bentuk jamak dari Shanam, sedangkan Anshab adalah bentuk jamak dari Nushub.
1. Ayat-ayat dengan kata Ashnam (أَصْنَام)
Kata ini konsisten merujuk pada patung-patung yang dipahat dan disembah sebagai tuhan.
QS. Al-An'am: 74
"...Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala (ashnām) sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata." (Kisah Nabi Ibrahim kepada ayahnya, Azar).
QS. Al-A'raf: 138
"...Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (ashnām)..." (Permintaan Bani Israil setelah menyeberangi laut).
QS. Ibrahim: 35
"...dan jauhkanlah aku dan anak cucuku agar tidak menyembah berhala-berhala (ashnām)." (Doa Nabi Ibrahim).
QS. Al-Anbiya: 57
"Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu (ashnāmikum) setelah kamu pergi meninggalkannya."
QS. Ash-Shu'ara: 71
Mereka menjawab: "Kami menyembah berhala-berhala (ashnāman) dan kami senantiasa tekun menyembahnya."
2. Ayat-ayat dengan kata Anshab (أَنْصَاب) / Nushub (نُصُب)
Kata ini merujuk pada batu yang ditegakkan untuk ritual atau tanda pengenal suatu tempat keramat.
QS. Al-Ma'idah: 3
"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi... dan (diharamkan juga) yang disembelih untuk berhala/batu altar (an-nushubi)..."
QS. Al-Ma'idah: 90
"Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamr, maysir, berhala/batu altar (al-anshābu), dan azlam adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan..."
QS. Al-Ma'arij: 43
"(Yaitu) pada hari ketika mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (nushubin) (sewaktu di dunia)." (Di sini nushub bermakna tiang/tanda yang dituju dengan cepat).
Menarik untuk dicatat: Al-Qur'an menggunakan istilah yang berbeda-beda untuk menunjukkan betapa beragamnya jenis kesyirikan pada masa itu—mulai dari yang berupa karya seni (patung) hingga yang hanya berupa batu alam yang dikultuskan.

Add Comments