Ragam Istilah Berhala dalam Al-Qur'an: Memahami Tipologi Kesyirikan

Advertisemen

Dalam literatur Al-Qur'an, fenomena penyembahan selain Allah (Kesyirikan) tidak digambarkan dengan satu kata tunggal saja. Allah menggunakan berbagai istilah yang spesifik untuk menunjukkan bahwa kesyirikan memiliki banyak wajah—mulai dari bentuk fisik yang artistik hingga benda alam yang dikultuskan.

Memahami perbedaan antara Ashnam, Autsan, Anshab, Tamatsil, dan Jibt sangat penting untuk melihat bagaimana Al-Qur'an membedah akar penyimpangan spiritual manusia.

 

1. Ashnam (أَصْنَام): Berhala Hasil Pahat (Patung Figuratif)

Ashnam adalah bentuk jamak dari Shanam. Secara etimologi, kata ini merujuk pada sesuatu yang dibentuk atau dirupakan.

  • Karakteristik Fisik: Berupa patung yang memiliki bentuk anatomi yang jelas, seperti manusia atau hewan.

  • Proses Pembuatan: Dibuat melalui proses pemahatan kayu, pengukiran batu, atau penuangan logam cair ke dalam cetakan.

  • Konteks Al-Qur'an: Istilah ini paling sering muncul dalam kisah Nabi Ibrahim AS. Beliau menentang kaumnya yang menyembah patung-patung buatan tangan mereka sendiri.

  • Filosofi: Larangan terhadap Ashnam menekankan pada kesia-siaan menyembah sesuatu yang diciptakan oleh tangan manusia sendiri (QS. Al-Anbiya: 57-58).

2. Autsan (أَوْثَان): Berhala dalam Makna Umum

Autsan adalah bentuk jamak dari Watsan. Kata ini memiliki cakupan makna yang jauh lebih luas daripada Ashnam.

  • Karakteristik Fisik: Tidak terbatas pada patung manusia. Autsan bisa berupa bongkahan batu, potongan kayu, logam polos, atau benda alam apa pun yang dianggap keramat.

  • Filosofi: Jika Ashnam menekankan pada "bentuk" (seni pahat), maka Autsan menekankan pada "objek" sembahannya. Dalam Al-Qur'an, kata ini digunakan untuk menyebut najisnya penyembahan kepada materi (QS. Al-Hajj: 30).

  • Perbedaan Utama: Setiap Ashnam adalah Watsan, tetapi tidak setiap Watsan adalah Ashnam (karena ada berhala yang tidak berbentuk manusia/hewan).

3. Anshab (أَنْصَاب): Batu Altar dan Tugu Pemujaan

Anshab (atau Nushub) berasal dari akar kata Nashaba yang berarti "mendirikan" atau "menancapkan".

  • Karakteristik Fisik: Berupa batu besar yang ditancapkan secara tegak di suatu tempat. Batu ini biasanya tidak dipahat menyerupai makhluk hidup, melainkan dibiarkan alami namun dikeramatkan.

  • Fungsi Ritual: Berbeda dengan patung yang diajak bicara atau dipuja, Anshab berfungsi sebagai altar. Bangsa Arab Jahiliyah menyembelih hewan kurban di atas batu ini dan mengoleskan darahnya ke permukaan batu tersebut sebagai bentuk persembahan (QS. Al-Ma'idah: 3).

  • Konteks Hukum: Dalam QS. Al-Ma'idah: 90, Anshab disejajarkan dengan khamr dan judi karena berkaitan erat dengan pesta pora hasil ritual yang menyimpang.

4. Tamatsil (تَمَاثِيل): Patung Tiruan (Imitasi)

Tamatsil berasal dari kata Matstsala yang berarti menyerupakan atau membuat model tiruan.

  • Karakteristik Fisik: Segala sesuatu yang dibuat menyerupai makhluk bernyawa, baik itu patung tiga dimensi maupun gambar dua dimensi.

  • Nuansa Makna: Kata ini sebenarnya bersifat netral secara fisik. Dalam QS. Saba: 13, disebutkan bahwa jin-jin bekerja untuk Nabi Sulaiman AS untuk membuat Tamatsil (sebagai hiasan bangunan). Namun, kata ini berubah menjadi konotasi negatif ketika objek tersebut dijadikan sesembahan (QS. Al-Anbiya: 52).

  • Pesan Moral: Istilah ini mengingatkan bahwa keindahan karya seni (estetika) bisa menjadi pintu menuju kesyirikan jika rasa kagum terhadap objek tersebut melebihi kekaguman kepada Sang Pencipta.

5. Jibt (جِبْت): Berhala Takhayul dan Sihir

Jibt adalah istilah yang paling unik karena tidak memiliki bentuk fisik yang pasti dan sering disebut sebagai kata serapan atau istilah teknis kuno.

  • Karakteristik: Merujuk pada segala sesuatu yang disembah atau dipercayai memiliki kekuatan gaib tanpa dasar kebenaran sama sekali. Ini mencakup sihir, jimat, ramalan nasib, dan segala bentuk takhayul.

  • Konteks Al-Qur'an: Disebutkan dalam QS. An-Nisa: 51 terkait dengan Ahli Kitab yang terjerumus pada kepercayaan-kepercayaan mistis yang batil.

  • Filosofi: Jibt adalah bentuk "berhala mental". Manusia mungkin tidak menyembah patung batu, tetapi jika hatinya terikat pada ramalan bintang atau kekuatan jimat, maka ia telah terjatuh pada Jibt.

 

Kesimpulan

Melalui variasi istilah ini, Al-Qur'an mengajarkan bahwa penyimpangan akidah tidak hanya terjadi lewat media patung raksasa. Kesyirikan bisa menyusup melalui:

  1. Seni dan Kreativitas (Ashnam & Tamatsil)

  2. Kultus Benda Alam (Autsan & Anshab)

  3. Ketakutan Gaib dan Takhayul (Jibt)

Dengan mengenali kelima istilah ini, kita diajak untuk lebih waspada terhadap segala bentuk "berhala modern" yang mungkin tidak lagi berbentuk patung batu di tengah kota, melainkan berupa pemujaan terhadap materi, ideologi, atau keberuntungan yang menjauhkan manusia dari tauhid yang murni.

 

TAGHUT 

Untuk melengkapi pemahaman kita, istilah Thaghut (طَاغُوت) adalah "puncak" dari semua pembahasan ini. Jika kelima istilah sebelumnya (Ashnam, Autsan, Anshab, Tamatsil, Jibt) adalah objek atau bentuk fisiknya, maka Thaghut adalah konsep payung (umbrella term) yang membawahi semuanya.

Berikut adalah penjelasan bagaimana Thaghut merangkum segala jenis berhala tersebut:

1. Definisi Thaghut: Melampaui Batas

Secara etimologi, Thaghut berasal dari akar kata Thagha (طغى) yang berarti "melampaui batas". Dalam istilah syariat, definisi yang paling masyhur diberikan oleh Imam Ibnul Qayyim:

"Thaghut adalah segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melampaui batasnya, baik itu berupa sesuatu yang disembah, diikuti, atau ditaati."

2. Hubungan Thaghut dengan 5 Istilah Berhala

Thaghut bertindak sebagai kategori besar yang menyatukan kelima istilah sebelumnya berdasarkan peran mereka dalam menyesatkan manusia:

  • Sebagai Sesembahan (Al-Ma'bud): Ini mencakup Ashnam (patung), Autsan (benda alam), dan Anshab (batu altar). Ketika benda-benda ini dijadikan objek ibadah, mereka secara otomatis menjadi Thaghut.

  • Sebagai Sesuatu yang Diikuti (Al-Matbu'): Ini mencakup Jibt (sihir/takhayul) dan Azlam (undian nasib). Orang yang mengikuti dukun, peramal, atau sistem yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah, berarti telah menjadikan subjek tersebut sebagai Thaghut.

  • Sebagai Sesuatu yang Ditaati (Al-Mutha'): Ini mencakup pemimpin atau sistem yang memerintahkan maksiat kepada Sang Pencipta.

3. Mengapa Istilah Thaghut Sangat Penting?

Dalam Al-Qur'an, syarat utama keimanan bukan sekadar "percaya kepada Allah", tetapi juga "mengingkari Thaghut". Perhatikan QS. Al-Baqarah: 256:

"...Barangsiapa ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus..."

Ayat ini menunjukkan pola Nafi (peniadaan) dan Itsbat (penetapan):

  1. Nafi: Membuang semua jenis Ashnam, Autsan, Anshab, Tamatsil, dan Jibt dari hati (Ingkar kepada Thaghut).

  2. Itsbat: Menetapkan hanya Allah sebagai satu-satunya sembahan.


Kesimpulan Akhir

Jika kita membayangkan sebuah pohon kesesatan:

  • Thaghut adalah akar dan batangnya.

  • Ashnam, Autsan, Anshab, Tamatsil, dan Jibt adalah cabang, daun, dan buahnya yang berbeda-beda bentuk namun berasal dari sumber yang sama: yaitu sesuatu yang melampaui batas dan menjauhkan manusia dari pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan memahami ini, kita bisa melihat bahwa "berhala" dalam pandangan Al-Qur'an bukan hanya soal benda kuno di museum, tapi soal apa pun yang mendominasi hati dan ketaatan manusia melebihi ketaatannya kepada Allah.


Advertisemen

Related Posts

Baca Tulisan Lainnya ini