Artikel, Berita dan Opini Tentang Islam

Para Ilmuwan Besar Muslim Yang Terkenal di Eropa



Pendahuluan: Kondisi Dunia Islam

Beberapa abad pasca dinasti Abasyiah, umat Islam cenderung untuk mengelompokan Ilmu ke dalam dua kelompok besar, yaitu Ilmu Akherat (agama) dan Ilmu Dunia (agama). Pengelempokan ini menimbulkan penilaian, mana yang lebih unggul. Tentu saja karena kita umat Islam lebih banyak fokus pada Akherat, karena memang itulah tujuan hidup manusia, Hal ini menyebabkan Ilmu Akherat lebih diunggulkan (Wallahu A'lam). Akhirnya Umat Islam lebih terdorong untuk menuntut ilmu-ilmu Agama dibandingkan Ilmu-ilmu keduniaan.

Kondisi ini lambat laut berlangsung selama berabad-abad, setelah Huru hara perang salib di daerah barat Asia selama 200 tahun, sehingga kurang stabilnya kondisi. Ditambah Serangan ganas Mongol dari Timur yang menghancurkan khazanah ilmu di Baghad dan kota-kota lain yang merupakan pusat para sarjana Islam pada waktu itu. Kondisi ini membuat Umat Islam lebih cenderung untuk fokus pada ilmu agama. Sedangkan Ilmu Dunia menjadi stagnan dan banyak ditinggalkan.

Kondisi sebelumnya, nampak berbeda dimana umat Islam memiliki semangat yang luar biasa dalam menuntut Ilmu. Perluasan kekuasan di Dunia Islam ke segala penjuru, membuatnya menemukan khazanah-khazanah kuno dari Yunani, Persia, India dan tempat lainnya, dimana saat itu Dunia sedang berada pada masa kegelapan. Ilmu-ilmu dunia tidak lagi dikembangkan selama berabad-abad. Sementara di Dunia Islam Al-Quran dan Sunnah Rasul menekankan pentingnya menuntut ilmu.


ilmuwan besar muslim berpengaruh

Semangat umat Islam untuk menuntut Ilmu begitu besarnya dan disisi lain penguasa saat itu sangat mendukung, sehingga dalam waktu yang bisa dikatakan singkat, munculah cabang-cabang ilmu baru hasil kolaborasi atas pengembangan ilmu-ilmu kuno dari berbagai sumber. Dari sumber sejarah mengatakan bahwa saat itulah cikal bakal Ilmu Modern muncul, yaitu metode ilmiah. Dalam khazanah Ilmu-ilmu kuno Sebelumnya belum ditemukan metode Ilmiah. Dengan adanya metode ilmiah inilah akhirnya banyak penemuan-penemuan didunia muslim saat itu. Namun di sisi ekonomi nampaknya penemuan-penemuan besar seperti konsep piston, jam air, tidak menjadi komoditi penting sehingga perkembangannya tidak signifikan dan mungkin akhirnya hanya tersimpan di gudang.

kondisi ini berbeda dengan Eropa abad 16 masehi

7 Abad Sebelumnya sekitar akhir abad 9 masehi, kondisi dunia Eropa masih dalam kegelapan karena tak ada perkembangan Ilmu pengetahuan. Masyarakat diliputi oleh berbagai macam takhayul. Kondisi ekonomi dari hasil pertanian tidak banyak memberikan hasil. Hingga akhirnya ditemukan mata bajak yang bisa mempercepat proses pengolahan tanah. Lambat laun Para petani ini semakin makmur kondisi ekonominya. Orang-orang kaya akhirnya terkadang melakukan perjalanan jauh ke dunia Arab, yang saat itu terlihat sangat maju dibanding dunia Eropa.

 Di sisi lain perang salib yang berkepanjangan terus berlangsung selama 200 tahun. Kondisi tersebut, tentunya menyebabkan persentuhan-persentuhan Eropa dengan Dunia Arab Islam yang "lebih Modern". Meskipun perang berkecamuk antara Eropa dan Dunia Islam, namun di sisi lain perekonomian tetap berlangsung antara masyarakat Eropa dan Arab. Ya mungkin seperti saat inilah, dengan kondisi yang sebaliknya.
bazar di Atena - muslim
Bazar di Atena

Singkat cerita akhirnya Orang-orang eropa pun belajar Ilmu di pusat-pusat Ilmu pengetahuan dunia Islam saat itu. Dan menemukan manuskrip-manuskrip kuno dari dunianya pada masa lampau. Dengan belajar ilmu dari dunia Islam serta mempelajari sendiri manuskrip kuno, Setelah berabad-abad kondisi Eropa mulai berubah.

Sentimen Agama

Perang Salib membuat sentiman agama muncul di dunia Islam, Para pedagang Islam "mencekik" pedagang Eropa. komoditi-komoditi yang banyak diminati eropa yang berasal dari dunia Timur Jauh, harus melewati pedagang Arab dulu dan harganya menjadi sangat mahal. Orang-orang Eropa dengan keahliannya berlayar, melakukan sejumlah pelayaran dengan tujuan India melalui samudera melewati Cape Town (semenanjung Afrika) dan berhasil hingga Melayu. Keberhasilan ini diikuti oleh para pedagang Eropa, sehingga bisa mendapatkan komoditi penting tanpa harus melewati Arab.
ilustrasi kapal vasco de gamma
ilustrasi kapal Vasco De Gamma


Di saat yang sama Ilmu Pengetahuan di Dunia Eropa juga semakin maju. Dunia Eropa nampak semakin kaya yang diikuti dengan Kemajuan di bidang Teknologi. Penemuan mesin uap akhirnya mengawali Era Industri. Sementara di Dunia Islam berlaku sebaliknya.

Ilmuwan Besar Muslim di Mata Eropa

Keberhasilan Eropa menuju era Industri, tidak terlepas dari perkembangan Ilmu Pengetahuan di Dunia Islam (khususnya lagi Andalusia, Spanyol). Hal ini dapat terlihat dari beberapa Ilmuwan muslim yang namanya tersohor di Eropa, beberapa diantaranya yang memiliki nama besar di bidang ilmu Pengetahuan yaitu:

Ibnu Sina (Avicena)

Nama Lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Asli bin Sina. Lahir pada tahun 370 Hijriyah atau 980 Masehi di Desa Khormeisan, Afsyanah dekat Bukhara, sekarang di wilayah Uzbekistan dan wafat tahun 1037 M. Seperti anak-anak muslim lainnya kala itu, pelajaran awal yang harus ia pelajari adalah tentang Al-Quran. Lalu ia pun belajar ilmu lainnya.

Ibnu Sina berasal dari keluarga bermzhab Ismailiyah, dimana sangat akrab dengan pembahasan Ilmiah yang disampaikan bapaknya. Sejak kecil Ibn Sina telah mempelajari sastra dan ilmu agama seperti tafsir, fikih dan tasawuf. Karena keceredasaanya, ia telah banyak menguasai Ilmu saat usia 10 tahun. Setelah itu Ibnu Sina mempelajari ilmu logika, hitung, pengobatan dan filsafat.

ibnu sina qanun fi attib


Ibnu Sina Hidup di masa dunia Islam, banyak menerjemahkan teks ilmu pengetahuan dari Yunani, Persia dan India. Secara intensif Teks Yunani dari Plato hingga Aristoteles diterjemahkan dan dikembangkan lebih maju oleh para ilmuwan. Suasana dan kondisi wilayahnya sangat mendukung dalam perkembangan ilmu dan budaya. Pada masa itu Ibnu Sina memiliki akses untuk belajar di perpustakaan besar di wilayah Balkh, Khwarezmia, Gorgan, Kota Ray, Kota Isfahan dan Hamedan. Selain fasilitas perpustakaan besar yang memiliki banyak koleksi buku, pada masa itu hidup pula beberapa ilmuwan muslim seperti Abu Raihan Al-Biruni seorang astronom terkenal, Aruzi Samarqandi, Abu Nashr Mansur seorang matematikawan terkenal dan sangat teliti, Abu al-Khayr Khammar seorang fisikawan dan ilmuwan terkenal lainya.

Selama hidupnya Ibnu Sina telah menulis 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Kebanyakan memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Karya besarnya yang sangat monumental adalah berjudul Qanun fi al-Thibb (Canon of Medicine). karya besar lainnya seperti buku filsafat yang berjudul asy-Syifa dan juga al-Isyarat wat-Tanbihat. Pada tahun 1955, Ibnu Sina dinobatkan sebagai Father of Doctors (Bapak
kedokteran)

Ibnu Rusyd (Averoes)

Abu Walid Muhammad bin Rusyd, tahun 520 Hijriah (1128 Masehi) lahir di Kordoba (Andalusia/spanyol). Dilahirkan dari keluarga terpandang, ayah dan kakeknya adalah hakim-hakim terkenal. Sejak kecil Ibnu Rusyd telah mempelajari ilmu fikih, ilmu hitung dan kedokteran di Sevilla, lalu pulang ke kordoba untuk studi, meneliti dan menulis. Usia 18 tahun hijrah ke Maroko mendalami teologi (ilmu Tauhid) berpaham Asy'ariyah. Sehinga ia menjadi ahli dalam bidang syari'at, kedokteran dan filsafat.

Menurut Ernest Renan (1823-1892) karya Ibnu Rusyd mencapai 78 judul yang terdiri dari 39 judul tentang filsafat, 5 judul tentang kalam, 8 judul tentang fiqh, 20 judul tentang ilmu kedokteran, 4 judul tentang ilmu falak, matematika dan astronomi, 2 judul tentang nahu dan sastra.

Beberapa karyanya seperti; Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid. Buku fiqh Islam yang berisi perbandingan mazhab (aliran-aliran dalam fiqh dengan menyebutkan alasan masing-masing), Fashl al-Maqal Fi Ma Baina al-Himah Wa asy-Syirah Min al-Ittishal. Buku yang menjelaskan adanya persesuaian antara filsafat dan syari’at. Buku yang terkenal dalam lapangan ilmu filsafat dan ilmu kalam. Tahafut al-falasifah, merupakan pembelaan Ibnu Rusyd terhadap kritikan al-Ghazali terhadap para filosof dan masalah-masalah filsafat, dan masih banyak karya lainnya.

Ibnu Haitham (AlHazen)

Abu Ali Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham lahir di Basrah (Irak) pada 354 H, bertepatan dengan 965 Masehi dan wafat pada tahun 1039 genap usia 74 tahun.Sejak kecil ia amat giat menuntut ilmu terutama Alquran, matematika, dan ilmu pengetahuan alam. Mula-mula di Basrah, lalu merantau ke Ahwaz dan Baghdad untuk memperdalam ilmu-ilmu tersebut. Ibnu Haitham remaja mulai meneliti alam semesta dan mulai melakukan percobaan ilmiah, hasilnya ditulis menjadi buku. Ia pun pergi ke Mesir untuk meneliti aliran Sungai Nil serta menyalin buku-buku mengenai matematika dan ilmu falak. Ia menjadi pengajar Universitas al-Azhar. Ibnu Haitham menetap di Cairo, dan wafat sekitar tahun 1039 M.

Penyelidikannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler menciptakan mikroskop serta teleskop. Beliau merupakan orang pertama yang menulis dan menemui pelbagai data penting mengenai cahaya.

konsep kamera obscura


Bagi Ibnu Haitham, falsafah tidak boleh dipisahkan dari matematika, sains, dan ketuhanan. Ketiga bidang dan cabang ilmu ini harus dikuasai, dan untuk menguasainya seseorang harus memaksimalkan masa mudanya untuk mempelajarinya dengan sepenuhnya.

Beberapa kitab karya Ibnu haytham:
Al-Jami’ fi Usul Al-Hisab, yang mengandung teori-teori ilmu matematika dan Analisa Matematika;
Kitab Al-Tahlil wa Al-Tarkib, mengenai ilmu geometri;
Kitab Tahlil Al-Masa’il Al-Adadiyah, tentang algebra;
Maqalah fi Istikhraj Simat Al-Qiblah, mengupas tentang arah kiblat bagi segenap rantau;
Maqalah fima Tad’ullaih, mengenai penggunaan geometri dalam urusan hukum syarak; dan
Risalah fi Sina’at Al-Syi’r, mengenai teknik penulisan puisi.

Selain ketiga ilmuwan besar tersebut ada banyak lagi ilmuwan  besar lainnya yang sangat berpengaruh di dunia Eropa seperti:

Jabir Bin Hayyan (Gebert)
Al-Kindi (al-kindus)
Az Zahrawi (Abulcasis)
Al-Khawarizmi (AlGorisma)
Ibnu Zakaria Al-Razi (Razes)
Ibnu Bajjah (Avempace)

Anda dapat menemukan biografi lengkap masing-masing tokoh tersebut lewat internet dengan mudah, melalui mesin pencari, terutama google. Kita akan memperoleh sumber tulisan yang luar biasa tentang biografi para ilmuwan besar tersebut bagaimana mereka menjalani kehidupannya.

Kesimpulan

Dengan membaca biografi para ilmuwan besar muslim ini, semoga kita terinspirasi untuk terus bersemangat memajukan peradaban yang sesuai dengan tuntunan syariah. Satu hal yang kami kira perlu dicontoh, bahwa mereka semua masa kecilnya telah terlebih dahulu belajar Al-Qur'an. Pemahaman Agama telah kuat di dalam diri mereka baru mereka belajar ilmu-ilmu seperti filsafat dan logika. Hal ini menghasilkan karya-karya original yang kritis dan logis serta tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Jadi agama menjadi pondasi dasar cara berfikir para ilmuwan besar muslim masa itu. Berbeda dengan dunia eropa awal abad pencerahan, dimana para ilmuwannya harus berhadapan dengan otoritas agama hingga harus dibunuh.

mempelajari alquran sejak kecil


Intinya dengan melihat sejarah Islam, kita akan sedikit tahu apa yang dimaksud dengan nur(cahaya) Allah. Ilmu itu adalah cahaya.

(sumber rujukan; buku Dari puncak Baghdah Sejarah Dunia Versi Islam, wikipedia Id, dan web-web lainnya yang membahas tentang biografi masing-masing ilmuwan muslim).




Share Ke Temenmu:
Back To Top