Suasana Shalat Jumat dan Idul Fitri di Moskow, Rusia

Diposkan oleh Islam Wiki

Rusia merupakan negara yang cukup menghormati keberadaan umat Islam, terutama di Moskow. Hal ini dapat terlihat saat pelaksanakan shalat Jumat maupun shalat 'ied di masjid-masjid yang ada di Moskow.

Suasana shalat jumat dan 'Ied di Moskow diceritakan oleh M. Aji Surya (Diplomat RI di Moskow) dalam sebuah artikel yang ditayangkan di detik Ramadhan. Berikut ini adalah penggalan gambaran cerita suasana shalat di masjid-masjid Moskow.

Suasana Shalat Jumat di Moskow

Ketika datang pertama kali untuk salat Jumat, akan terlihat bagimana kaum muda mengisi masjid dan beribadah dengan relatif khusyuk. Tidak ada yang ngobrol kanan kiri, sms-an ataupun bbm-an. Tidak ada juga anak-anak yang berlarian bermain petak umpet di dalam masjid. Pada saat khotbah disampaikan semua menyimak dengan baik .

Kalau datang setengah jam sebelum salat ditunaikan, maka jangan berharap dapat tempat di dalam masjid. Bisa dapat 50 meter dari masjid saja sudah sangat bersyukur, sebab pada saat khotbah nanti pasti sudah mengular sampai 200-an meter. Maklumlah, masjid besar di Moskow hanya ada lima biji dan pasti tidak mampu menampung jamaah yang demikian besar. 

Suasana Shalat Ied di Moskow

Jangan sekali-kali datang dua-tiga jam sebelum didirikannya salat jika ingin menikmati salat di dalam masjid. Masjid sudah disesaki jamaah mungkin empat jam sebelum pelaksanaan. Minat untuk salat sekali setahun ini demikian membuncah sehingga sejak sehabis subuh, masjid di Moskow sudah seperti sarang lebah saja. 

Malam sebelumnya, polisi sudah memembebaskan jalan-jalan di sekitar masjid dari parkiran mobil dan setiap ujung jalan diblok dengan mobil milik milik pemerintah. Kepada masyarakat di sekitar masjid diberitahu bahwa pada hari esuk merupakan hari besar umat Islam sehingga akan dilaksanakan sebuah salat berjamaah yang akan meluber dan tumpah sampai mana-mana. Bahkan laudspeaker yang biasanya hanya ada di dalam masjid, khusus untuk lebaran di pasang di jalanan agar khotbah di dalam masjid bisa didengar oleh para jamaah di jalanan.

Dua jam sebelum pelaksanaan salat, umat Islam sudah mulai mengisi jalan-jalan yang telah dikosongkan tersebut. Terlihat banyaknya orang yang bergegas dan berlarian mencari tempat sembahyang di jalanan dan mengatur shaf sendiri-sendiri. Mereka rata-rata hanya berdiri saja meskipun takbir dikumandangkan. Tidak seperti di Indonesia yang kemudian menirukan takbir yang dipimpin oleh sang imam. Jumlah mereka bukan lagi seperti lebah lagi, namun sudah seperti semut hitam yang ada di mana-mana. Sangat banyak dlam hitungan ribuan atau pada masjid tertentu puluhan ribu.

Setengah jam dari pelaksanaan salat, jalanan yang diblokir tidak lagi mampu menampung jamaah. Mereka sudah merapatkan diri dengan baik namun tetap saja ribuan orang tersebut meluber ke luar arena, memasuki jalan raya tempat lalu lalang kendaraan. Ujung jamaah tersebut bisa jadi berjarak 1 kilometer atau bahkan 3 kilometer dari masjid. Dengan demikian, khotbah atau instruksi apapun dari dalam masjid tidak terdengar lagi.

Masyarakat yang datang dan mengular di jalanan tersebut adalah mereka yang berislam namun tidak memiliki pengetahuan cukup tentang Islam. Kalau di kita sering disebut sebagai Islam KTP, atau dalam teori dikatakan Islam abangan. Mereka hanya datang ke masjid pada saat Idul Adha dan Idul Fitri saja. Bagi mereka Islam adalah sebuah panggilan jiwa yang tidak bisa ditawar namun kesadaran pelaksanaan Islam secara komprehensif belum ada. 
Sumber: DetikRamadhan - Fenomena 'Islam Jalanan'