Translate To Your Language

Kitab Kitab tafsir Tersohor

Diposkan oleh Islam Wiki
A. Kitab Tafsir Bil Ma'tsur
- Tafsir Ibnu Abbas
- Tafsir Ibnu 'Uyainah
- Tafsir Ibnu Abi Hatim
- Tafsir Abu Syaikh Bin Hibban
- Tafsir Ibnu 'Athiyah
- Tafsir Abu Al-Laitsi As-Samaqandi, Bahrul 'Ulum
- Tafsir Abu Ishaq, Al Kasyfu wa Al Bayan "an Tafsir AlQuran
- Tafsir Ibnu jarir AtThabari, Jami'ul Bayan fi Tafsir AlQuran
- Tafsir Ibnu Abi Syaibah
- Tafsir Al Baghawi, Ma'alim at Tanzil
- Tafsir Abi Al Fida Al hafizh Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al 'Azim
- Tafsir Ats-Tsalabi, Al JAwahir Al Hisam fi Tafsir Al Quran
- Tafsir Jalaludin As Suyuthi, Ad Durr Al Manshur fi At Tafsir bi Al Ma'tsur
- Tafsir AS Syaukani, fathu AL qadir

B. Kitab Tafsir bir Ra'yi
- Tfasir Abdurahman bin kaisan Al Asnam
- Tafsir Abu Ali Al Jubba'i
- tafsir Abdul Jabbar
- Tafsir Az-Zamakhsyari, Al Kasysyaf'an Hqaiq Ghawamidn At Tanzil wa 'Uyun Al Aqawil fi Wujuh at Ta'wil
- Tafsir Fakhrudin Ar Razi, mafatih Al Ghaib
- Tafsir Ibnu Faurak
- Tafsir An NAsafi, Madari At TAnzil wa Haaiq At ta'wil
- Tafsir Al Khazin, lubab At Ta'wil fi Ma'ani at Tanzil
- Tafsir Abu Hayyan, Al Bahru Al Muhith
- Tafsir Al Baidhawi, Anwar At Tanzil wa Asrar At TA'wil
- TAfsir Jalalain

C. Kitab Tafsir Era Modern
- Al Jawahir fi tafsir Al quran, Syaikh Thantawi jauhari.
- Tafsir Al Manar, Muhammad Abduh
- Tafsir fi Zhilal Al Quran , Sayyid Qutb
- Tafsir Al Bayan li Al Quran AlKarim, Bintu Syathi'

D. Tafsir Para Fuqaha
- Ahkam Alquran, Al JAshash
- Ahkam Alquran, Al Kiya' Al Harras (manuskrip)
- Ahkam Al Quran, Ibnul 'Arabi
- Jami'il Ahkam Alquran. A Qurthubi
- Al Tafsirah Al Ahmadiyah fi Bayani ayat Asyar'yah, Mulla Geon (india)
- Al iklil fi Istinbath At TAnzil, Assuyuthi (manuskrip)
- Tafsir Ayat Al Aham, Syaikh Muhammad As sayis
- Tasfiru Ayat Al Ahkam, Syaikh Manna' Al Qathan
- AdhWa'u Al Bayan, Syaikh Muhammad Asy Syinqithi
Read More

Memahami Wakaf Di era Modern

Diposkan oleh Islam Wiki
Pengertian wakaf
Lughawi: berasal dari kata waqafa= menahan (persoalan wakaf adalah persoalan pemindahan hak milik yang dimanfaatkan untuk kepentingan umum)

Istilahi:
Imam Abu Hanifah: menahan materi benda orang yang berwakaf dan menyedekahkan manfaatnya untuk kebajikan.

Jumhur Ulama’, termasuk Imam Abu Yusuf dan Muhammad Bin Hasan Asy-Syaibany: menahan tindakan hukum orang yang berwakaf terhadap hartanya yang telah diwakafkan dengan tujuan untuk dimanfaatkan kepentingan umum dan kebajikan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah SWT, sedangkan materinya tetap utuh.

Implikasi Harta Wakaf
Imam Abu Hanifah; bahwa wakaf:
Tidak mengikat, orang yang berwakaf boleh mencabut wakafnya kembali dan harta wakaf boleh
diperjualbelikan oleh pemilik semula.

Berwakaf bukan berarti menanggalkan hak milik secara mutlak.

Akad wakaf baru bersifat mengikat apabila:
Terjadi sengketa antara orang yang mewakafkan dan pemelihara harta wakaf dan hakim memutuskan bahwa wakaf tersebut mengikat Wakaf tersebut dipergunakan untuk masjid.
Putusan hakim terhadap harta wakaf tersebut dikaitkan dengan kematian orang yang berwakaf

Alasan Pendapat Imam Abu Hanifah
Sabda Rasulullas SAW: “Tidak boleh menahan harta yang merupakan ketentuan-ketentuan Allah SWT”…(Al-daruqutni).

Menurut Imam Abu Hanifah, apabila wakaf bersifat melepaskan hak milik, maka akan bertentangan dengan hadis tersebut di atas.

Namun demikian, Pendapat tersebut dibantah oleh Wahbah Az-Zuhaily, bahwa maksud dari Hadis tersebut adalah adanya pembatalan sistem waris yang ada di zaman Jahiliyah yang hanya
membatasi hak waris hanya ada pada kaum pria; di samping itu wahbah Zuhaily melihat bahwa
hadis tersebut dhaif.

Download File


Download MATERI STUDI WAKAF

Read More

Pentingnya Ilmu Ushul Fiqh

Diposkan oleh Islam Wiki
Seberapa penting Ilmu Ushul Fikih itu?

Abu zahrah dalam pengantar kitabnya Ushul Fiqh (terjemahan) Menerangkan bagaimana aspek penting dari Ilmu Ushul Fiqh.

Ilmu ushul Fiqh adalah suatu ilmu yang menguraikan tentang metode yang dipakai oleh para imam mujtahid dalam menggali dan menetapkan hukum syar'i dari nash. Dan berdasar nash pula mereka mengambil 'illat yang menjadi landasan hukum serta mencari maslahat yang menjadi tujuan hukum syar'i, sebagaimana dijelaskan dan diisyaratkan oleh al-Qur'an maupun sunnah Nabi.

Dalam hal ini, Ilmu Ushul Fiqh berati suatu kumpulan kaidah metodologis yang menjelaskan bagi seorang faqih bagaimana cara mengambil hukum dari dalil-dalil syara'. Kaidah itu bersifat lafzhiyah, seperti dilalah (penunjukan) suatu lafazh terhadap arti tertentu, cara mengkompromikan lafazh yang secara lahir bertentangan atau berbeda konteksnya; dan bisa bersifat maknawiyah, seperti mengambil dan menggeneralisasian suatu 'illat dari nas serta cara yang paling tepat untuk penetapannya.

Begitulah kandungan Ilmu Ushul Fiqh yang menguraikan dasar-dasar serta metode penetapan hukum taklif yang bersifat praktis yang menjadi pedoman bagi para faqih dan mujtahid, sehingga dia akan menempuh jalan yang tepat dalam beristinbath (mengambil hukum).

Karena itulah ilmu ushul fiqh merupakan aspek penting yang mempunyai pengaruh paling besar dalam pembentukan pemikiran fiqh.

Dengan mengkaji ilmu ini seseorang akan mengetahui metode-metode yang dipakai oleh para imam mujtahid dalam mengambil hukum yang kita warisi selama ini. Terutama, dari segi yang lebih produktif bila ingin mengembangkan hukum-hukum yang telah diwarisi itu, meski tidak sepadan, maka ilmu ushul fiqh itu akan menerangi jalan untuk berijtihad.

Dengan begitu seseorang akan tahu tanda-tanda dalam menetapkan hukum syara' dan tidak menyimpang dari jalan yang benar, disamping ia juga akan selalu mampu mengembangkan hukum syar'i dalam memberi jawaban terhadap segala persoalan yang muncul dalam setiap masa. Artinya ilmu ushul fiqih nerupakan hal yang harus diketahui oleh orang yang ingin mengenali fiqh hasil para ulama terdahulu,juga bagi orang yang ingin mencari jawaban hukum syar'i terhadap persoalan yang muncul pada setiap saat.

Sebagai kesimpulan bahwa Ilmu Ushul Fiqh merupakan pedoman yang tepat untuk memahami teks-teks perundang-undangan. Di satu pihak, ilmu itu sendiri sangat dalam dan rumit yang bisa menjadi metode dan acuan bagi seorang ahli hukum, dan di pihak lain akan dapat melatih dan mengembangkan kemampuannya dalam menerapkan dan menegakan hukum. (Prof. Muhmmad Abu zahrah).
Read More

Ushul Fiqh (Abu zahrah)

Diposkan oleh Islam Wiki 4 Comments
Buku Ushul Fikih terjemahan berbahasa Indonesia dari Kitab Ushul Fikih Karya Abu Zahrah. Buku ini telah menjadi pegangan para mahasiswa di PTAI Indonesia.

Judul Buku : Ushul Fiqih
Judul Asli : Ushul Al Fiqh
Penulis : Prof. Muhmmad Abu zahrah
Penerjemah : Saefullah Ma'shum, Slamet Basyir, Mujib Rahmat, Hamid Ahmad, Hamdan Rasyid, Ali Zawawi, Fuad Falahuddin.
Penerbit: Pustaka Firdaus.


Untuk menjawab berbagai persoalan dan upaya penerapan hukum syar'i pada masa kini, yang berkaitan dengan individu maupun masyarakat, dituntut perhatian yang lebih besar terhadap ilmu-ilmu dasarnya. Seseorang harus mengetahui sumber-sumber hukumnya dan metode-metode penetapan yang dipakai para ulama terdahul, untuk kemudian mampu memilih metode yang paling tepat sebagai dasar dalam penetapan hukum dengan tida menyimpang dari tujuan syari'at Islam.

Buku ini membukaan jalan. Dan, ilmu Ushul fiqih bukan hanya berguna untuk memahami syari'at saja tetapi juga sangat berguna untuk memahami undang-undang secara tepat. Dengan ilmu ini seseorang akan tahu tentang pengertian setiap lafazh yang ada pada nash, baik secara manthuq (tekstual) maupun mafhum (kontekstual), juga akan mampu mmbuat batasan bagaimana menetapkan sutau pengertian yang tepat ketika berhadapan dengan lafzh lain yang secara lahir atau tersamar mempunyai persesuaian maupun perbedaan.

Buku ini menjadi pegangan di berbagai perguruan tinggi Islam sejak beberapa daswarsa sangat penting bagi para mahasiswa, pengkaji, ahli, dan pemerhati hukum Islam.


Ringkasan Daftar Isi:

Pengantar
Pendahuluan
Bab 1 : Hukum Syara'
Bab 2 : Pembuat Hukum (al Hakim)
Bab 3 : Sumber Hukum
- Al Qur'an
- Sunnah
- Pengambilan hukum Dari Al Qur'an dan Sunnah
- Ijma'
- Fatwa Sahabat
- Qiyas
- Istihsan
- 'Urf
- Mashalih Mursalah
- Dzari'ah
- Istishhab
BAb 4 : Obyek Hukum (Mahkum fih)
Bab 5 : Subyek Hukum ( Mahkum 'alaih)
Bab 6 : Tujuan Hukum Syara'
Bab 7 : Ijtihad
Read More

Langkah Ulama dalam Membahas Ushul Fiqh

Diposkan oleh Islam Wiki

Langkah Ulama membahas Ushul Fikih

Ulama tidak hanya menggunakan satu cara dalam membahas ushul fiqh. Ada ulama yang membahasnya dengan menetapkan kaidah ushul, fokus membahas dalil dan tidak melebar pada perdebatan imam mujtahid tantang kaidah cabang fiqh. Fokus analisis itu bertujuan untuk meletakkan kaidah ushul fiqh sesuai dengan yang ditunjukkan dalil, menjadikannya sebagai ukuran pengambilan dalil (istidlal), dan menjadi pengadil atas ijtihad para mujtahid, bukan menjadi pelayan masalah cabang dalam sebuah madzhab.

Cara tersebut adalah cara yang digunakan madzhab Mutakallimin, Mu’tazilah, Syafi’iyah, Malikiyah, dan diikuti oleh madzhab Ja’fariyah dalam pembukuan ilmu ushul fiqh mereka pertama kali, sekalipun setelah itu Ja’fariyah mencampurnya dengan cara lain, yakni meletakkan kaidah ushul untuk menjelaskan masalah cabang (furu’) dalam madzhabnya.

Keistimewaan cara yang ditempuh oleh Mutakallimin adalah mengakomodasi akal dalam pengambilan dalil, tidak mempersulit madzhab dan sedikit menyebutkan cabang fiqh, sekalipun ada, hal itu hanya untuk menjelaskan contoh.

Cara lain yang ditempuh ulama adalah dengan meletakkan kaidah ushul berdasarkan cabang-cabang fiqh dari imam madzhab. Mereka meletakkan kaidah dengan keyakinan bahwa para imam madzhab itu (secara tidak langsung) telah menggunakan kaidah yang mereka letakkan itu dalam ijtihad dan istinbath mereka dalam mencetuskan hukum fiqh (cabang). Ulama madzhab Hanafiyah dikenal menempuh cara ini, sehingga cara ini kemudian disebut dengan cara Madzhab Hanafiyah.

Keistimewaan cara ini terletak pada praktisnya. Ini adalah studi praktis terapan cabang fiqh dari imam madzhab dan usaha meletakkan aturan, kaidah, dan ketentuan ushul yang digunakan oleh para imam madzhab dalam mencetuskan hukum. Dengan demikian, kaidah yang ditetapkan dengan cara ini berfungsi melayani permasalahan cabang dalam madzhab dan menjadi penopang imam madzhab hanafiyah dalam berijtihad. Cara ini lebih cocok diterapkan pada cabang dan lebih menyentuh pada fiqh sebagaimana diutarakan oleh Ibnu Kholdun..

Selain dua cara di atas, ada cara ketiga yang ditempuh ulama, yakni menggabungkan dan mengambil keunggulan-keunggulan dari dua cara di atas (mutakallimin dan hanafiyah). Caranya, selain dengan meletakkan kaidah yang murni bersandar pada dalil untuk dijadikan ukuran pencetusan hukum dan mengadili pendapat dan ijtihad, juga dengan meneliti permasalahan cabang-cabang fiqh dari para imam, menjelaskan asal dari cabang-cabang itu, menerapkan kaidah pada cabang, menghubungkan dan menjadikannya pelayan untuk cabang-cabang itu. Cara ini ditempuh oleh banyak madzhab, yakni Syafi’iyah, Malikiyah, Hanabilah, Ja’fariyah dan Hanafiyah.

Kitab-kitab yang ditulis dengan cara yang ditempuh madzhab Mutakallimin, di antaranya: Al-Burhan (Imam Al Haramain Abdul Malik bin Abdullah al Juwaini as Syafi’i [w. 413 H]), Al-Mustasyfa (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali as Syafi’i [w. 505 H]), Al-Mu’tamad (Abu al Husain Muhammad bin Ali al Basyri al Mu’tazili [w. 413 H]).

Ketiga kitab di atas telah diringkas oleh Fakhruddin ar Razi as Syafi’i (w. 606 H). Diringkas pula dan ditambah oleh Imam Saifuddin al Amidi as Syafi’i (w. 631 H) dalam kitabnya: Al Ihkam fi Ushul al Ahkam.

Kitab-kitab yang ditulis dengan cara yang ditempuh madzhab Hanafiyah di antaranya: Al Ushul (Abu Bakar Ahmad bin Ali yang populer dengan Al Jashosh [w. 380 H]), Al Ushul (Abu Zaid Abdullah bin Umar ad Dabbusi [w. 430 H]), Al Ushul (fakhrul islam Ali bin Muhammad al Bazdawi [w. 482 H]) dan syarahnya, Kasyf al Asrar (Abdul Aziz bin Ahmad al Bukhari [w. 730 H]).

Kitab-kitab yang ditulis dengan cara menggabungkan dua cara madzhab Mutakallimin dan Hanafiyah, di antaranya: Badi’ an Nidham yang menggabungkan kitab Al Bazdawi dan Al Ihkam (Imam Mudhfiruddin Ahmad bin Ali as Sa’ati al Hanafi [w. 649 H]), At Tanqih dan syarahnya, At Taudlih (shadrus syari’ah Abdullah bin Mas’ud al Hanafi [w. 747 H]), Syarh at Taudlih (Syaikh Sa’duddin Mas’ud Ibnu Umar at Taftazani as Syafi’i [w. 792 H]), Jam’u al Jawami’ (Tajuddin Abdul Wahhab bin Ali as Subki as Syafi’i [w. 771 H]), At Tahrir (Ibnu al Hamam al Hanafi [w. 861 H]) dan syarah-nya, At Taqrir wa at Tahbir (Muhammad Ibnu Muhammad Amirulhajj al Halabi, murid penulis At Tahrir [w. 879 H]), Muslam ats Tsubut (Muhibbullah Ibnu Abdusyakur [w. 1119 H]) dan syarah-nya yang ditulis oleh Abdul Ali Muhammad bin Nidhamuddin al Anshari.

Kitab-kitab ushul dari Madzhab Ja’fariyah: Adz Dzari’ah fi Ushul as Syaria’ah (Sayyid Syarif Al Murtadlo [w. 336 H]), ‘Iddatul Ushul (Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Husain bin Ali at Thusi [w. 460 H]).
Di antara kitab ulama kontemporer madzhab Ja’fariyah: Al Qawanin (Abu al Hasan al Jailani) selesai ditulis pada tahun 1205 H, Al ‘Anawin (Syaikh Muhammad Mahdi al Kholishi al Kadhimi) selesai ditulis pada tahun 1341 H.
Read More

Tujuan dan Kadar Kebutuhan Mempelajari Ushul Fiqh

Diposkan oleh Islam Wiki
Adapun tujuan diletakkannya ilmu ushul fiqh adalah untuk mengetahui hukum syariah perbuatan, melalui peletakan kaidah dan metode agar seorang mujtahid terhindar dari kesalahan.

Fiqh dan ushul fiqh mempunyai tujuan yang sama, yakni hukum syariah. Hanya saja, ushul fiqh berperan menetapkan metode dan kaidah pencetusan hukum, sedangkan fiqh yang melakukan pencetusan hukum melalui metode dan kaidah yang ditetapkan oleh ushul fiqh.

Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa ilmu ushul fiqh tidak dibutuhkan lagi karena pintu ijtihad sudah ditutup, karena menurut kami pintu ijtihad terbuka sampai hari kiamat kelak, tentu dengan syarat-syarat yang berlaku. Ulama yang berfatwa bahwa pintu ijtihad sudah tertutup adalah dikarenakan dulu mereka melihat fenomena kelancangan orang bodoh terhadap syariah Allah, mencetuskan hukum berdasarkan nafsu dan menyebarkannya di antara orang yang tidak memahami ushul fiqh.

Orang yang tidak memenuhi syarat untuk berijtihad juga tetap membutuhkan ilmu ini. Mereka cukup mempelajari kaidah-kaidah ushul fiqh hingga rujukan yang digunakan mujtahid sebagai landasan pendapat mereka, dasar-dasar madzhab mereka, dan sesekali dapat membandingkan dan mengunggulkan (tarjih) salah satu pendapat dan mengeluarkan hukum sesuai dengan metode yang digunakan para imam mujtahid dalam menetapkan dan mencetuskan hukum.

Sebagaimana hukum syariah yang tidak bisa lepas dari ilmu ini, pengacara, hakim, dosen dan sebagainya juga tidak bisa lepas dari ushul fiqh dalam memutuskan suatu hukum. Karena kaidah dan dalil yang ditetapkan ushul fiqh (seperti qiyas dan dalilnya, kaidah ushul untuk menafsirkan nash, cara penunjukan kata dan kalimat pada makna yang dikandungnya, segi pengambilan dalil dan kaidah untuk mengunggulkan [tarjih] satu di antara dalil) adalah salah satu hal yang harus dikuasai oleh orang yang berkompeten dalam memutuskan suatu hukum dan untuk mengetahui tafsir dan hukum yang terkandung di dalamnya. Karena itulah mengapa Fakultas Syariah dan Hukum di Irak, Syiria, Mesir dan Negara lain tetap mengajarkan ilmu ini kepada mahasiswanya.

Read More

Macam-macam Hukum Syara’

Diposkan oleh Islam Wiki
Menurut Ulama ushul fiqh, hukum syara’ ada dua macam:

Pertama, Hukum Taklifi: yakni hukum yang mengandung tuntutan untuk melakukan, meninggalkan atau memilih antara melakukan atau meninggalkan.

Hukum ini disebut dengan taklifi karena di dalamnya ada beban bagi manusia. Beban itu terlihat jelas karena merupakan suatu tuntutan, baik tuntutan untuk mengerjakan atau meninggalkan, dan takhyir (mubah) dimasukkan dalam hukum taklifi karena dimutlakkan dan digolongkan secara istilah, bukan hakikatnya, atau bisa juga dikatakan bahwa maksudnya adalah: hukum takhyir/mubah hanya berlaku bagi mukallaf, artinya kebolehan memilih antara mengerjakan dan meninggalkan hanya berlaku bagi orang yang telah dibebani tuntutan, baik tuntutan untuk mengerjakan atau meninggalkan. Inilah alasan mengapa takhyir/mubah dimasukkan dalam hukum taklifi, bukan berarti bahwa mubah itu adalah sesuatu yang dibebankan kepada mukallaf.

Kedua, hukum wadl’i: hukum yang menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat, atau penghalang bagi sesuatu yang lain.

Hukum ini disebut dengan wadl’I karena merupakan perantara antara dua hal dengan hubungan sebab, syarat, atau penghalang (mani’) yang telah ditetapkan syari’ (Allah). Artinya syari’ telah menetapkan bahwa ini menjadi sebab bagi ini, ini menjadi syarat bagi ini atau ini menjadi penghalang bagi ini. Untuk contoh-contoh hukum taklifi dan hukum wadl’I sudah dijelaskan sebelumnya.


Perbedaan Hukum Taklifi dan Hukum Wadl’i

a. Hukum taklifi menuntut seorang mukallaf untuk melakukan sesuatu, meninggalkan atau memilih antara keduanya, sedangkan hukum wadl’i tidak menunjukkan suatu tuntutan, hukum wadl’i hanya menjelaskan bahwa syari’ telah menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat, atau penghalang bagi sesuatu yang lain, agar mukallaf mengetahui kapan ada dan tidaknya hukum syara’.

b. Dalam hukum taklifi, sesuatu yang dibebankan (mukallaf bih) adalah sesuatu yang mampu dikerjakan atau ditinggalkan oleh mukallaf dan berada dalam kekuasaan dan kadar kemampuannya, karena tujuan dari pembebanan hukum adalah ketaatan mukallaf terhadap hukum yang dibebankan itu. Maka sia-sia saja jika sesuatu yang dibebankan itu berada di luar kadar kemampuannya, dan hal ini tidak mungkin terjadi dalam ketentuan syari’. Dalam kaidah disebutkan bahwa, “Pembebanan hukum hanya berlaku jika berada dalam kadar kemampuan mukallaf.”
Sedangkan dalam hukum wadl’I, sesuatu itu tidak harus selalu berada dalam kadar kemampuan mukallaf, kadang ia di luar kadar kemampuan. Akan tetapi jika sesuatu itu ada, maka pasti ada akibatnya.

Hukum wadl’i yang berada dalam kadar kemampuan mukallaf di antaranya adalah: pencurian, zina, dan perbuatan dosa yang lain, syari’ telah menetapkannya sebagai sebab yang memiliki akibat.

Pencurian adalah sebab dan akibatnya adalah hukum potong tangan, zina adalah sebab dan akibatnya adalah hukum cambuk atau rajam, dan sebagainya.

Demikian pula semua akad dan transaksi, semua itu merupakan sebab yang memiliki akibat syara’. Jual beli adalah sebab berpindahnya kepemilikan, menikah adalah sebab halalnya hubungan suami-isteri dan tetapnya hak-hak kedua belah pihak, menghadirkan saksi adalah syarat sahnya pernikahan dan wudlu adalah syarat sahnya shalat, karena itulah nikah tidak sah tanpa saksi dan shalat tidak sah tanpa wudlu. Membunuh pemberi harta waris adalah penghalang bagi ahli waris memperoleh harta warisan dan membunuh pemberi wasiat adalah penghalang bagi penerima wasiat memperoleh apa yang diwasiatkan.

Sedangkan hukum wadl’i yang berada di luar kadar kemampuan mukallaf di antaranya adalah: datangnya bulan Ramadhan sebagai sebab wajibnya puasa, tergelincirnya matahari sebagai sebab wajibnya shalat, kekerabatan sebagai sebab hubungan waris. Ketiga sebab itu di luar kadar kemampuan mukallaf. Baligh adalah syarat berakhirnya kekuasaan wali dan cakap adalah syarat bolehnya melakukan beberapa transaksi. Baligh dan cakap adalah syarat yang tidak bisa diusahakan oleh mukallaf. Status bapak adalah penghalang diberlakukannya hukum qishash baginya jika dia membunuh anaknya dengan sengaja, gila adalah penghalang diberlakukannya hukum bagi orang gila, dan status penerima wasiat sebagai ahli waris adalah penghalang baginya menerima wasiat menurut sebagian ulama fiqh. Ketiga penghalang itu di luar batas kemampuan mukallaf.


Foundation of Islam
Al Tawhid
Al Risalah
Al Akhirah
Qur'an
Sunnah


Artikel:
Foundation of Islam
Islamic Brotherhood
Tidak Berkahnya Harta hasil Kezaliman
Kontribusi Islam Pada Peradaban Dunia
ISlam dan Perubahan Sosial
Kisah Kisah DAlam Quran dan Sunnah
HIerarki Ilmu dalam Keilmuwan Islam
Menyatukan Kembali Ilmu Agama dan Umum
Sains Muslim Pada Masa Abad Pertengahan
Produk-Produk bank Syariah
Inspirasi Al Qur`an dalam Sains
Matematika Alam Semesta
Read More

MACAM-MACAM HUKUM TAKLIFI

Diposkan oleh Islam Wiki 2 Comments
Mayoritas ulama ushul fiqh membagi hukum taklifi menjadi lima macam:
1. Ijab: tuntutan yang harus dan pasti dari syari’ pada mukallaf untuk mengerjakan sesuatu. Akibat yang ditimbulkan oleh pekerjaan mukallaf itu dinamakan wujub dan pekerjaannya dinamakan wajib.

2. Nadb: tuntutan yang bukan keharusan dan hanya bersifat anjuran (tarjih) dari syari’ pada mukallaf untuk mengerjakan sesuatu. Akibat yang ditimbulkan oleh pekerjaan mukallaf itu juga dinamakan nadb sedangkan pekerjaannya dinamakan mandub.

3. Tahrim: tuntutan yang harus dan pasti dari syari’ pada mukallaf untuk meninggalkan sesuatu. Akibat yang ditimbulkan oleh pekerjaan mukallaf itu dinamakan hurmah dan pekerjaannya dinamakan haram atau muharram.

4. Karahah: tuntutan yang bukan keharusan dan hanya bersifat anjuran dari syari’ pada mukallaf untuk meninggalkan sesuatu. Akibat yang ditimbulkan oleh pekerjaan mukallaf itu juga dinamakan karahah sedangkan pekerjaannya dinamakan makruh.

5. Ibahah: pilihan dari syari’ pada mukallaf antara mengerjakan atau meninggalkan, tidak ada anjuran untuk memillih salah satu keduanya. Akibat yang ditimbulkan oleh pekerjaan mukallaf itu juga dinamakan ibahah sedangkan perbuatannya dinamakan mubah.

Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa yang dituntut untuk dikerjakan itu ada dua macam, yakni wajib dan mandub, yang dituntut untuk ditinggalkan ada dua macam pula, yakni muharram dan makruh, dan yang merupakan pilihan antara mengerjakan atau meninggalkan ada satu macam, yakni mubah.



Lainnya:

Foundation of Islam
Al Tawhid
Al Risalah
Al Akhirah
Qur'an
Sunnah


Artikel:
Foundation of Islam
Islamic Brotherhood
Tidak Berkahnya Harta hasil Kezaliman
Kontribusi Islam Pada Peradaban Dunia
ISlam dan Perubahan Sosial
Kisah Kisah DAlam Quran dan Sunnah
HIerarki Ilmu dalam Keilmuwan Islam
Menyatukan Kembali Ilmu Agama dan Umum
Sains Muslim Pada Masa Abad Pertengahan
Produk-Produk bank Syariah
Inspirasi Al Qur`an dalam Sains
Matematika Alam Semesta



Read More

Definisi Ushul Fiqh

Diposkan oleh Islam Wiki

A. Definisi Ushul Fiqh Sebagai Susunan Idlafiyah

Untuk menjelaskan ini, lafadz ushul al fiqh harus dipisah, yakni menjadi ushul dan al fiqh.
Ushul adalah bentuk plural dari kata ashl. Secara etimologi berarti: asal-muasal dari sesuatu, baik secara inderawi maupun rasio. Ulama ushul biasa menggunakan kata ‘ashl’ untuk beberapa makna di bawah ini:

1. Dalil

Kita ambil sebuah contoh, pernyataan: “asal masalah ini adalah ijma’’ adalah berarti “dalil masalah ini adalah ijma’”. Jadi, ushul fiqh dengan makna ini berarti: dalil-dalil fiqh, sebab fiqh dibangun berdasarkan dalil-dalil rasional.

2. Rujukan

Kita ambil sebuah contoh, pernyataan: “asal dari ucapan itu adalah hakikatnya” adalah berarti “rujukan ucapan itu adalah kembali pada hakikat, bukan majas”. Pernyataan “asal qiyas adalah al Quran” adalah berarti “rujukan qiyas adalah al Quran”.

3. Kaidah

Pernyataan “kebolehan makan bangkai bagi orang yang terpaksa adalah pengecualian dari asal” adalah berarti “kebolehan makan bangkai bagi orang yang terpaksa adalah pengecualian dari kaidah umum”. Pernyataan “hukum asal dari fa’il adalah rofa’” adalah berarti (kaidah umum yang berlaku adalah fa’il dibaca rofa’) atau (fa’il harus dibaca rofa’ merupakan kaidah ilmu Nahwu).

4. Hukum Asal

Pernyataan “hukum asal adalah bebas dari tanggungan” berarti “yang dijadikan hukum asal adalah bebasnya seseorang dari sebuah tanggungan, selama tidak ada hal yang menetapkan tanggungan itu padanya.”

Secara etimologi, fiqh berarti: “mengerti atau paham”. Yang dimaksud mengerti bukanlah mutlak mengetahui, melainkan memahami secara mendalam, mendetail dan kontekstual, hal itu ditunjukkan dengan penggunaan kata ‘fiqh’ dalam al Qur’an, di antaranya surat Hud: 91, “Mereka (penduduk Madyan) berkata: hai Syu’aib, kami tidak terlalu mengerti tentang apa yang kamu katakan.” Dan surat An Nisa’: 78, “Maka mengapa orang-orang (munafik) itu hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?.”

Menurut terminologi ulama, fiqh adalah: diskursus tentang hukum-hukum syariah perbuatan (amaliyah) yang ditetapkan berdasarkan dalil spesifik. Atau fiqh adalah hukum itu sendiri.

Penjelasan:
Ahkam yang merupakan bentuk plural dari hukm mempunyai arti “menetapkan sesuatu”, baik dalam bentuk kalimat negatif maupun positif. Contoh: “matahari terbit” atau “matahari tidak terbit” dan “air itu panas” atau “air itu tidak panas”.

Akan tetapi yang dimaksud dengan ahkam dalam ilmu ushul fiqh adalah: ketetapan yang berkaitan dengan perbuatan orang mukallaf, yakni wujub (wajib), nadb (sunnah), hurumah (haram), karahah (makruh), ibahah (mubah), shihhah (sah), fasad (rusak) atau buthlan (batal).

Tidak harus mencakup semua hukum syariah untuk bisa disebut fiqh, tetapi cukup sebagiannya saja. Orang yang mengetahui fiqh disebut dengan faqih, selama dia memiliki kemampuan untuk melakukan istinbath.

Syariah: hukum-hukum itu harus bernuansa syariah, yakni diambil dari dalil syariah (al Qur’an dan hadits) baik secara langsung maupun tidak. Dengan demikian, hukum yang tidak bernuansa syariah tidak termasuk dalam hukum yang dimaksud oleh ilmu ushul fiqh seperti (1) hukum akal. Misalnya: keseluruhan itu lebih banyak dari sebagian, satu adalah separuh dari dua, alam adalah baru. (2) hukum inderawi, yakni hukum rasa. Misalnya: api panas. (3) trial (eksperimen). Misalnya: racun yang dapat membunuh. (4) hukum asas/dasar. Misalnya : kaana dan yang berlaku seperti kaana berfungsi me-rafa’-kan mubtada’ dan me-nashab-kan khabar.

Amaliyah: yakni berhubungan dengan perbuatan mukallaf, yakni shalat, jual-beli, tindak pidana dan hal-hal lain terkait ibadah dan mu’amalah. Oleh karena itu, sesuatu yang tidak berhubungan dengan perbuatan tidak termasuk dalam hukum yang dimaksud oleh ilmu ushul fiqh seperti (1) akidah atau kepercayaan. Misalnya: iman kepada Allah dan hari kiamat. (2) akhlak atau etika. Misalnya: keharusan jujur dan larangan dusta. Hal-hal di atas tidak dibahas dalam ilmu ushul fiqh, tetapi dibahas dalam ilmu tauhid/kalam dan ilmu akhlak/tashawuf.

Penetapan (muktasabah): yakni ditetapkan berdasarkan dalil spesifik dengan jalan penelitian (an-nadhr) dan pengambilan dalil (istidlal).

Berdasarkan penjelasan di atas, maka ilmu Allah terhadap hukum, ilmu Rasulullah dan para penganutnya tidak dapat disebut dengan fiqh dan orangnya tidak dapat dipanggil ‘faqih’. Alasannya, ilmu Allah terhadap hukum dan dalil adalah sifat yang melekat pada dzat-Nya, ilmu Rasulullah didapat dari wahyu, bukan hasil penetapan, dan ilmu para penganut (mukallid) Rasul didapat dari taklid (ikut), bukan hasil penelitian atau ijtihad.

Dalil spesifik (tafsil): suatu dalil partikular (juz’i) yang membahas masalah khusus dan telah memiliki nash tersendiri. Contoh:

a) Firman Allah: “…diharamkan bagimu ibu-ibumu…” (An-Nisa’: 23). Ayat ini adalah dalil spesifik atau dalil partikular yang membahas masalah khusus, yakni menikahi ibu. Dan telah menunjukkan hukum yang spesifik pula, yakni haram menikahi ibu.

b) Firman Allah: “…janganlah kamu mendekati zina, karena zina adalah perbuatan keji dan seburuk-buruknya jalan…” (Al-Isra’: 32). Ayat ini adalah dalil particular (juz’i) dengan mengangkat masalah khusus, yakni zina. Hukumnya juga khusus, yakni haramnya zina.

c) Firman Allah: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka semua kekuatan yang kamu mampu dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang…” (Al-Anfal: 60). Adalah dalil partikular dengan masalah khusus, yakni menyiapkan kekuatan yang dimiliki pasukan. Hukumnya juga khusus, yakni wajibnya menyiapkan kekuatan yang dimiliki pasukan untuk menumpas musuh.

d) Sabda Nabi SAW: “Membunuh dengan sengaja harus diqishash”. Adalah dalil partikular dengan masalah khusus, yakni membunuh dengan sengaja. Hukumnya juga khusus, yakni qishash.

e) Ijma’ (konsensus) ulama tentang bagian 1/6 yang diperoleh nenek dari harta waris. Adalah dalil partikular dengan masalah khusus, yakni bagian waris nenek. Hukumnya khusus yakni wajib memberi nenek bagian 1/6 dari harta waris.

Contoh-contoh di atas itulah yang dimaksud dengan dalil spesifik (tafsili), dalil yang menunjukkan hukum suatu masalah. Dalil spesifik inilah yang menjadi objek pembahasan ulama fiqh sebagai sarana untuk mencari tahu hukum yang akan timbul darinya dengan menggunakan kaidah-kaidah pencetusan hukum dan metode pengambilan dalil yang terdapat dalam ilmu ushul fiqh. Ulama ushul fiqh (ushuliyyun) tidak membahas dalil spesifik ini, tetapi membahas dalil umum (ijmal) atau dalil universal untuk menemukan hukum-hukum universal pula yang pada akhirnya untuk meletakkan suatu kaidah yang dapat digunakan oleh ulama fiqh untuk menerapkan dalil-dalil spesifik/partikular yang bertujuan untuk mengetahui hukum syariah.

B. Definisi Ushul Fiqh Secara Terminologis

Sebagai sebutan dari sebuah ilmu, ushul fiqh adalah: sebuah ilmu tentang kaidah dan dalil-dalil umum yang digunakan untuk mencetuskan hukum fiqh sesuai cakupan kaidah dan dalil itu.

Kaidah adalah: diskursus umum yang mencakup hukum partikular (juz’i), dengan kaidah inilah hukum juz’I dapat diketahui .

Kaidah “Al-Amru yufid al-wujub illa idza sharafathu qarinatuh ‘an dzalik” (Amar (perintah) menunjukkan wajib, kecuali jika ada indikasi yang dapat memalingkannya dari wajib). Kaidah ini mencakup semua nash partikular. Seperti firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman, tepatilah janji-janjimu…” (Al Maidah: 1) dan “Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah pada Rasul…” (An Nur: 59) semua kata yang menunjukkan amar (perintah) masuk dalam kategori kaidah di atas. Dengan kata amar itulah hukum wajib dalam ayat-ayat itu dapat diketahui. Seperti wajibnya menepati janji, wajibnya shalat, menunaikan zakat dan taat pada Rasul.

Contoh kaidah: “Nahi (larangan) menunjukkan haram, kecuali jika ada indikasi yang dapat memalingkannya dari haram”. Kaidah ini mencakup semua nash yang nenujukkan kata nahi (larangan), dengan kata nahi itulah hukum haram dalam nash-nash itu dapat diketahui. Seperti firman Allah SWT, “…dan janganlah kamu mendekati zina…” (Al Isra’: 32) dan firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan cara batil. (An-Nisa’: 29), dengan kaidah itu, maka diketahui bahwa hukum melakukan zina adalah haram, begitu pula makan harta dengan cara batil.

Dengan contoh kaidah di atas, seorang mujtahid dapat mencetuskan hukum fiqh, yakni mencetuskan hukum syariah perbuatan (amaliyah) yang ditetapkan berdasarkan dalil spesifik. Jika misalnya seorang mujtahid ingin mengetahui hukumnya shalat, maka ia membaca firman Allah, “Aqiimu ash-shalah” (dirikanlah shalat). Karena kata (Aqiimu) adalah bentuk amar (perintah), maka kaidah “amar menunjukkan wajib, kecuali ada indikasi lain” diterapkan, dari penerapan itu kemudian diketahui bahwa hukum melaksanakan shalat adalah wajib.

Yang dimaksud dengan dalil ijmal (umum) adalah sumber-sumber hukum syariah, seperti Al Qur’an, Sunnah, Ijma’ (konsensus ulama), dan Qiyas (analogi). Mengetahui dalil ijmal berarti mengetahui argumentasi dan kedudukannya dalam proses pengambilan dalil, mengetahui apa yang ditunjukkan oleh nash, makna dan syarat ijma’, macam-macam Qiyas dan ‘illat-nya (indikasi), metode menemukan ‘illat dan sebagainya.

Ulama ushul membahas dalil ijmal yang menunjukkan (memiliki dalalah) hukum syariah.

Ulama fiqh membahas dalil juz’i untuk mencetuskan hukum juz’i dengan bantuan kaidah ushul dan mengaitkannya dengan dalil ijmal.


Read More

Sejarah Munculnya Ilmu Ushul Fiqh

Diposkan oleh Islam Wiki

Bagaimana Sejarah munculnya Ilmu Ushul Fiqh?

Ushul fiqh ada sejak fiqh ada. Di mana ada fiqh, maka di sana wajib ada ushul fiqh, ketentuan dan kaidahnya. Karena fiqh adalah hakikat yang dicari ilmu ushul fiqh. Sekalipun keberadaannya bersamaan, fiqh lebih dulu dibukukan dari ushul fiqh. Dalam arti problematika, kaidah dan bab-bab di dalamnya lebih dulu dibukukan, dipisah dan dibeda-bedakan.

Hal ini tidak berarti bahwa ushul fiqh tidak ada sebelum adanya fiqh atau sebelum dibukukan, atau bahwa ulama fiqh tidak menggunakan kaidah dan metode yang tetap dalam mencetuskan hukum. Karena faktanya, kaidah dan metode ushul fiqh sudah menyatu dalam jiwa para mujtahid. Mereka telah bergumul dengannya sekalipun tidak terang-terangan.

Maka saat sahabat sekaligus ulama fiqh, Abdullah Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa, “masa tunggu (iddah) wanita hamil yang ditinggal mati suaminya adalah sampai dia melahirkan”, maka beliau mendasarkan pendapatnya pada firman Allah, “…dan (bagi) wanita-wanita hamil, (maka) waktu tunggunya adalah sampai dia melahirkan…” (At-Thalaq: 4). Beliau mengambil dalil surat At-Thalaq karena ayat ini turun setelah turunnya surat Al-Baqarah: 234, “Orang-orang yang mati dan meninggalkan isteri, maka mereka (isteri) harus menahan diri mereka selama empat bulan sepuluh hari.” Dengan apa yang dilakukan itu, berarti Abdullah bin Mas’ud telah mengamalkan kaidah ushul fiqh, “Nash yang datang terakhir menggugurkan nash yang datang sebelumnya,” sekalipun beliau tidak menjelaskannya.

Pada umumnya, sesuatu itu ada, baru kemudian dibukukan. Pembukuan menerangkan keberadaanya, bukan munculnya, seperti halnya dalam ilmu Nahwu (ilmu alat) dan Ilmu Manthiq (ilmu logika). Orang arab selalu me-rafa’-kan fa’il dan me-nashab-kan maf’ul dalam setiap percakapannya, maka berlakulah kaidah itu sebagai bagian dari kaidah ilmu nahwu, sekalipun ilmu nahwu belum dibukukan. Orang berakal akan berdiskusi berdasarkan hal-hal yang pasti kebenarannya (aksioma/al-badihi), sebelum ilmu mantiq dan kaidah-kaidahnya dibukukan.

Dengan demikian, ushul fiqh adalah ilmu yang menyertai fiqh sejak munculnya, bahkan ada sebelum fiqh. Sebab ushul fiqh adalah aturan pencetusan hukum dan ukuran pendapat, tetapi saat itu belum dianggap perlu untuk membukukannya. Pada masa Nabi Muhammad SAW, tidak perlu membahas kaidah ushul fiqh apalagi membukukannya, karena Nabi sendiri adalah tempat rujukan fatwa dan hukum. Pada waktu itu tidak ada satu faktor apapun yang mengharuskan ijtihad atau fiqh. Tidak ada ijtihad berarti tidak perlu metode dan kaidah pencetusan hukum.

Setelah Nabi SAW wafat, muncul banyak permasalahan baru yang hanya bisa diselesaikan dengan ijtihad dan dicetuskan hukumnya dari Kitab (Al Quran) dan Sunnah. Akan tetapi ulama fiqh dari kalangan sahabat belum merasa perlu untuk berbicara kaidah atau metode dalam pengambilan dalil dan pencetusan hukum, karena mereka memahami bahasa arab dan seluk-beluknya serta segi penunjukan kata dan kalimat pada makna yang dikandungnya. Mereka mengetahui rahasia dan hikmah pensyariatan, sebab turunnya Al Quran dan datangnya sunnah.

Cara sahabat dalam mencetuskan hukum, ketika muncul sebuah permasalahan baru, mereka mencari hikmahnya dalam Kitab, jika belum menemukan mereka mencarinya ke sunnah, jika belum menemukan juga, mereka berijtihad dengan cahaya pengetahuan mereka tentang maqashid as-syariah (tujuan pensyariatan) dan apa yang diisyaratkan oleh nash. Mereka tidak menemui kesulitan dalam berijtihad dan tidak perlu membukukan kaidah-kaidahnya. Mereka benar-benar dibantu oleh jiwa ke-faqihan yang mereka dapatkan setelah menemani dan menyertai Nabi SAW sekian lama. Para sahabat memiliki keistimewaan berupa ingatan yang tajam, jiwa yang bersih dan daya tangkap yang cepat.

Sampai masa sahabat lewat, kaidah ushul fiqh belum dibukukan, demikian pula pada masa tabi’in, mereka mengikuti cara sahabat dalam mencetuskan hukum. Tabi’in tidak merasa perlu membukukan kaidah pencetusan hukum, karena mereka hidup dekat dengan masa Nabi dan telah belajar banyak dari sahabat.

Setelah lewat masa tabi’in, kekuasaan Islam semakin meluas, permasalahan dan hal-hal baru muncul, orang arab dan non arab bercampur sehingga bahasa arab tidak murni lagi, muncul banyak ijtihad, mujtahid dan cara mereka dalam mencetuskan hukum, diskusi dan perdebatan meluas, keraguan dan kebimbangan menjamur. Karena itulah ulama fiqh kemudian menganggap perlu untuk meletakkan kaidah dan metode berijtihad, agar para mujtahid dapat menjadikannya rujukan dan ukuran kebenaran saat terjadi perselisihan.

Kaidah-kaidah yang mereka letakkan adalah berlandaskan pada tata bahasa arab, tujuan dan rahasia pensyariatan, maslahat (kebaikan), dan cara sahabat dalam pengambilan dalil. Dari semua kaidah dan pembahasan itulah ilmu Ushul Fiqh muncul.

Ilmu ushul fiqh muncul –dalam bentuk pembukuan- adalah sebagai konsekuensi dari banyaknya kaidah yang muncul dalam perdebatan ulama ketika menjelaskan hukum, mereka menyebutkan hukum, dalil dan segi penunjukan dalil. Perbedaan pendapat di kalangan ulama fiqh didukung oleh kaidah ushul fiqh, masing-masing mereka mendasarkan pendapatnya pada kaidah ushul untuk memperkuat analisis, meningkatkan pamor madzhab (aliran), dan menjelaskan rujukan dalam ijtihad mereka.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa ulama yang pertama kali menulis tentang ushul fiqh adalah Abu Yusuf, ulama pengikut madzhab Hanafiyah, akan tetapi kitab-kitabnya tidak pernah kita temukan.

Sedangkan pendapat yang umum di kalangan ulama, bahwa ulama yang pertama kali membukukan ilmu ushul fiqh adalah Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i (w. 204 H).

Imam Syafi’i menulis kitab Ar Risalah yang terkenal. Di dalamnya Syafi’i berbicara tentang Al Quran, bagaimana Al Quran menjelaskan hukum, sunah menjelaskan Al Quran, Ijma’ dan Qiyas, Nasikh dan Mansukh, Amar dan Nahi, berhujjah (berargumentasi) dengan hadits ahad, dan bahasan ushul fiqh yang lain.
Syafi’i menulis Ar-Risalah dengan teliti, mendalam, setiap pendapatnya didasarkan dalil, dan mendiskusikan pendapat yang berbeda secara ilmiah, sempurna dan mengagumkan.

Setelah Syafi’i, Ahmad bin Hanbal menulis kitab tentang taat kepada Rasulullah SAW, kedua tentang nasikh dan mansukh dan ketiga tentang ‘ilat. Setelah itu, para ulama berbondong-bondong menulis, menyusun, memperluas dan menambah bahasan.
Read More

Download Kitab

Diposkan oleh Islam Wiki
Kutubu Tis’ah Kumpulan Hadits

Semua ada disini 9 kitab hadits File CHM 54 MB.
Download disini



Kumpulan Usul Fiqih

Download Disini


Read More

Pengantar Studi Ilmu Alqur-an

Diposkan oleh Islam Wiki 2 Comments
Judul ASli : Fii 'UlumilQurani
Penulis : Syaikh Manna' Al-Qaththan
Penerjemah : H. Aunur Rafiq El-Mazni, lc.MA
Penerbit : Pustaka ALkautsar
Tahun : 2007


Buku ini menurut penulisnya menyuguhkan pembahasan ringkas tentang pentingnya studi ilmu-ilmu Al Qur-an, yang mana para pemuda muslim yang tidak memiliki spesialisasi dalam studi keislaman dapat dengan mudah mendapat pengetahuan dan rujukan yang cukup penting darinya.

Ringkasan Daftar Isi:

Ulumul Qur-an dan Sejarah Perkembangannya
Al Qur-an
Wahyu
Makki dan Madani
Pengetahuan tentang Ayat yang pertama dan terakhir turun
Asbab An Nuzul
Turunya AlQur-an
Pengumpulan Penerbitan AlQur-an
Turunnya AL Quran dengan tujuh Huruf
Qirra'at dan Qurra'
Kaidah-kaidah Penting untuk para Mufasir
Perbedaan Muhkam dengan Mutasayabih
Lafazh Yang Umum dan Khusus
Nasikh dan Mansukh
Muthlaq da Muqayyad
Manthuq dan Mafhum
Kemukjizatan Al Qur-an
Amtsal Al Qur-an
Qasam dalam Al Qur-an
Jadal (debat) dalam Al Qur-an
Kisah-Kisah Al Qur-an
Terjemah Al Qur-an
Tafsir dan Taw'il
Syarat Syarat dan Adab Mufassir
Perkembangan Tafsir dari masa ke masa
Biografi beberapa mufassir
Read More

Al Qur-an Dan Ulumul Qur-an

Diposkan oleh Islam Wiki
Penulis : Drs. Muhammad Chirzin M.Ag
Penerbit : Dana Bhakti Prima Yasa
Tahun : 1998

Buku ini berusaha mengemukakan pengetahuan tentang Ulumul QUran. penulisnya menyatakan bahwa bahan-bahannya dihimpun dari karya para cendekiawan terdahulu dan mutakhir. Buku ini menyajikan pokok-pokok kajian dalam bidang ulumul Qur-an.

Ringkasan daftar isi:

Kata Pengantar
Ulumul Qur-an
Nuzulul Qur-an
Asbabun Nuzul
Nasikh dan Mansukh
Munasabah
Fawatihus Suwar
Muhkan dan Mutasyabih
Israiliyat
Qira'ah Al Qur-an
I'jaz Al Qur-an
Rasm Al Qur-an
Kisah dalam Al Qur-an
Amtsal Dalam Alquran
Aqsam Dalam Alquran
Kaidah Penafsiran Alqur-an
Kaidah Dasar Tafsir
Kaidah Isim Fi'il
Kaidah Amr dan Nahi
Kaidah Istifham
Kaidah Nakirah Dan Ma'rifah
Kaidah Mufrad dan jamak
Kaidah Tanya Jawab
Kaidah Wujuh dan Nazha'ir
Kaidah Dhama'ir Tadzkir dan Ta'nits
Kaidah Syarat dan Hazdf Jawabusy-syarth
kaidah Hadsful Maf'ul
Kaidah Redaksi Kalimat Umum dengan Sebab Khsusus

Read More

Ilmu Ilmu Al Qur-an

Diposkan oleh Islam Wiki
Penulis : Prof.T.M. Hasbi Ash Shiddieqy
Penerbit : Bulan Bintang
Tahun : 1993

Menurut kami buku ini erat terkait dengan karya Profesor Hasbi yang lain(Sejarah dan Pengantar Ilmu Al Qur-an/Tafsir). Menurut Penulisnya buku ini disarikan dari kitab Al Burhan (Imam az-Zarkasy), Al itqan (Imam Sayuti) dan Mabahits Fi Ulumil Qur-an( Prof.DR.Subehi Ash-Shalih).

Ringkasan daftar isi:
1. Ilmu Asbabun Nuzul (Mempelajari sebab-sebab turunnya Ayat Al Qur-an)

2. Ilmu Makiyah wal Madaniyah ( Menerangkan Surat Al-Quran mana yang diturunkan di Makkah dan yang diturunkan di Madinah)

3. Fawatihuh Suwari(kalimat-kalimat yang dipakai dalam pembukaan surat)

4. Ilmu Qiraat ( Ilmu cara-cara membaca Al quran)

5. Ilmu Nasikh dan Mansukh

6. Ilmu Rashmil Quraniyyi ( Cara-cara menulis lafadz-lafadz Al Qur-an)

7. Ilmu Muhkam wal Mutasyabih (Ilmu yang menerangkan ayat-ayat muhkamah dan mutasyabihat)

8.ILmu Amtsalil Quran (Ilmu tentang perumpamaan-perumpamaan dalam Al Qur-an)

9. Ilmu Aqsaamil Al Qur-an (Ilmu tentang sumpah dalam Al Qur-an)

10. Ilmu Qashashil Al Qur-an ( Ilmu tentang kisah-kisah dalam Al Qur-an)

11. Ilmu Jadalil Al Qur-an (Ilmu yang menerangkan tentang debat dalam Al Quran )

Read More

Sejarah dan Pengantar Ilmu Al Qur-an/Tafsir

Diposkan oleh Islam Wiki
Sejaran dan pengantar ilmu Al-Quran - Buku ini pembahasannya sangat luas tetapi cukup ringkas. Dalam pengantar penulis, buku ini dimaksudkan untuk menerangkan kepada mahasiswa sehingga dapat membedakan antara tafsir dengan ilmu tafsir. Menurutnya, lama orang berpendapat bahwa apabila seseorang pelajar telah menamatkan kitab tafsir Al Djalalain berarti ia telah menyelami lubuk ilmu tafsir. Padahal mempelajari kitab Al Djalalain dan Ash Shawy, tidak berarti sudah mempelajari isi kitab At Tibyan fi Ba'dhil Mabahits Al Muta'aliqati Bil Quran dan belum berarti telah mengetahui Ilmu-ilmu yang dibahas oleh As Sayuti dalam Al itqan dan Oleh Zarkhasy dalam Al Burhan.

Penulis : Prof.T.M. Hasbi Ash Shiddieqy
Penerbit : Bulan Bintang
Tahun : 1972

Ringkasan daftar isi:
Pengantar : Ta'rif Al Quran dan AlWahyu
Sejarah Nuzulul Quran
Bab I : Al Quran Di Masa Nabi Muhammad S.A.W
BAB II : Soal-soal Yang Bersangkut Paut dengan Nuzulu Quran
Bab II : Usaha Usaha Rasul dan Sahabat Sekitar Menyampaikan Al Qur-an
Bab IV : Rupa rupa Qirat Al Qur-an
Sejarah Mengumpulkan Shuhuf Shuhuf Al Qur-an
Bab I : Al Qur-an Dimasa Abu Bakr dan Umar
Bab II : Al Qur-an Di Masa Utsman
Bab II : Sekitar Tulisan Al Qur-an
Ilmu Ilmu Yang Perlu Dipelajari Oleh Para Mufasirin dan Sejarahnya
Bab I : Ilmu Dirayah dan Riwayah Al Qur-an
Bab II : Mentahqiqkan Soal Naskhul Qur-an
Sifat Siaft Al Qur-an, Rupanya dan Maksudnya
Bab I : Sifat sifat Al Qur-an
Bab II : Beberapa Contoh Uslub Al Qur-an
Bab III : Al Quran dasar Asasi yang terpokok Bagi Islam
Ta'rif Tafsir, Ta'wil, Qaedah, Istilah, Dan Ilmu Ilmu yang diperlukandalan menafsirkan Al Qur-an
Bab I : Pengertian Tafsir dan Ta'wil
Bab II : Beberapa Kaidah Tafsir
Bab III : Ilmu yang harus Diperlukan oleh seorang penafsir
Bab IV ; Tafsir dari Abad ke Abad, sejarah Perkembangan Tafsir
Biografi Ulama Ulama Al Qur'an
Read More

Pembagian Ilmu Al Quran dan Macamnya

Diposkan oleh Islam Wiki
Ilmu Al-Qur'an dibagi ke dalam bermacam-macam cabang ilmu.
Menurut Prof.M. Hasbi Ash Shidieqy ilmu-ilmu Al Quran yang terpokok yaitu :

'Ilmu Mawathinin Nuzul
Ilmu yang menerangkan tempat turun ayat, masanya, awal dan akhirnya. Dibahas dalam kitab AL ITQAN (As Sayuthy)

'Ilmu Tawarikhin Nuzul
Menjelaskan masa turun ayat dan tertib turunnya satu persatu hingga akhirnya.

'Ilmu Asababin Nuzul
Ilmu yang menerangkan sebab-sebab turunya ayat. Diantaranya dijelaskan dalam kitab LUBABUN NUQUL (As Sayuthy). Perlu diingat bahwa banyak riwayat dalam kitab ini yang tidak shahih.

'Ilmu Qiraat
Ilmu yang menerangkan macam-macam Qiraat. Dijelasakan dalam kitab An Nasyr fil Qira-atil 'asyr gubahan AL Imam Ibnul Djazary

'Ilmu Tajwid
Ilmu yang menerangkan cara-cara membaca Al Quran

'Ilmu Gharibil Quran
Yaitu ilmu yang mempelajari tentang makna kata-kata yang ganjil yang tidak terdapat dalam kitab-kitab biasa atau tidak terdapat dalam percakapan sehari-hari. Diterangkan dalam kitab AL MUFRADAAT (Ar Raghib Al Asfahany)

'Ilmu I'rabil Qur-an
Ilmu yang menerangkan baris Al Quran dan kedudukan lafadz dalam kalimat. Dalam kitab IMLA-UR RAHMAH ('Abdul Baqa al 'Ukbary)


'Ilmu Wujuh Wan Nadha-ir
Ilmu yang menerangkan kata-kata dalam Al Quran yang memiliki banyak arti. Dalam kitab MU'TARAKUL AQRAN (As Sayuthy)


'Ilmu Nasikh wa Mansukh
Menerangkan ayat-ayat yang dianggap mansukh oleh sebagian mufasirin. Diantara kitab yang membahasnya yaitu : Ushul Fiqh (Al Khudlary), An NAsih wa Mansukh (Ja'far An Nahhas), AL ITQAN.

'Ilmu Bada'il Qur-an
Menerangkan tentang keindahan-keindahan Al Quran. Dalam kitab AL ITQAN

'Ilmu I'jazil Qur-an
Ilmu yang menerangkan kekuatan susunan ayat Al Quran sehingga ia dipandang sebagai mukjizat. Dalam kitab I'jazul Qur-an (Al Baqillany)

'Ilmu Tanasubi Ajatil Qur-an
Menernagan persesuaian antara suatu ayat dengan yang sebelumnya dan sesudahnya. Kitabnya : Nazhmudurar (Ibrahm Al Biqa'y)

'Ilmu Aqsamil Qur-an
Menerangkan perumpamaan-perumpaman yang terdapat dalam Al Quran. Kitab ; Amtsalul Qur-n (Al Mawardy)

'Ilmu Djidalil Qur-an
Ilmu untuk mengetahui macam-macam debatan yang telah dihadapkan oleh kaum musyitikin dan lainya. Dalam ilmu ini kita bisa mengetahui cara-cara dan sikap-sikap yang dipergunakan Al Quran untuk berhadapan dengan orang yang keras kepala. Dikumpulkan oleh Najamudin At Thusy.

'Ilmu Adabi Tilawatil Qur-an
Ilmu untuk mempelajari segala macam aturan yang dipakai dan dilaksanakan di dalam membaca Al Quran. Kitab : At Tibyan (An NAwawy)
Read More

Urgensi Ulumul Quran

Diposkan oleh Islam Wiki
Apa itu Ulumul Quran

Setelah berusaha sedikit membaca beberapa buku yang berkaitan dengan Ulumul Qur'an kami menyimpulkan (pendapat kami semata) bahwa yang dimaksud dengan ulumul Quran adalah Ilmu yang dikembangkan oleh para ilmuwan muslim yang digunakan sebagai alat untuk memahami makna yang terkandung dalam alquran dan berkaitan erat dengan tafsir Al Quran. Ulumul Quran adalah alatnya sedangkan Ilmu tafsir adalah satu diantara yang dipelajari dalam Ulumul Al Quran yang membahas tentang metode penafsiran Al Quran. Untuk lebih memahami apa yang dimaksud ulumul Quran , berikut ini adalah ilmu-ilmu yang biasanya dipelajari dalam ulumul Quran (Tertuang dalam buku karya Hasbie As shidiqiey) :

  1. Ilmu Asbabun Nuzul (Mempelajari sebab-sebab turunnya Ayat Al Quran)
  2. Ilmu Makiyah wal Madaniyah ( Menerangkan Surat Al-Quran mana yang diturunkan di Makkah dan yang diturunkan di Madinah)
  3. Fawatihuh Suwari(kalimat-kalimat yang dipakai dalam pembukaan surat)
  4. Ilmu Qiraat ( Ilmu cara-cara membaca Al quran)
  5. Ilmu Nasikh dan Mansukh
  6. Ilmu Rashmil Quraniyyi ( Cara-cara menulis lafadz-lafadz Al Quran)
  7. Ilmu Muhkam wal Mutasyabih (Ilmu yang menerangkan ayat-ayat muhkamah dan mutasyabihat)
  8. ILmu Amtsalil Quran (Ilmu tentang perumpamaan-perumpamaan dalam Al Quran)
  9. Ilmu Aqsaamil Al Qur-an (Ilmu tentang sumpah dalam Al Quran)
  10. Ilmu Qashashil Al Qur-an ( Ilmu tentang kisah-kisah dalam Al Quran)
  11. Ilmu Jadalil Al Qur-an (Ilmu yang menerangkan tentang debat dalam Al Quran )

Dalam bukunya yang lain beliau memperinci pembagian Ulumul Quran.

Selain itu, sebagaimana ilmu lainnya, dalam mempelajari ilmu tersebut, diperlukan pula pengantar ulumul Quran. Dalam pengantarnya biasanya mempelajari tentang sejarah-sejarah yang berkaitan dengan turunya Al Quran, Definisi Alquran dan wahyu, perkembangan ulumul Quran.

Kenapa Perlu Mempelajari Ulumul Quran

Tanpa mempelajari Uluumul Quran sebenarnya seseorang akan kesulitan memahami makna yang terkandung dalam Al Quran, bahkan bisa jadi malah tersesatkan. Apalagi ada 2 jenis ayat yaitu ayat-ayat muhkamaat dan mutsayabihaat. Sejak masa nabi Muhammad pun, terkadang sahabat memerlukan penjelasan nabi apa yang dimaksud dalam ayat-ayat tertentu. Sehingga muslimin yang hidup jauh sepeninggal Nabi S.a.w, terutama bagi yang ingin memahami kandungan Al Quran dituntut untuk mempelajari ilmu tersebut.


Beberapa buku yang bisa menjadi rujukan dalam belajar Ulumul Quran diantaranya:

1. Sejarah Dan pengantar Ilmu Alquran dan tafsir (ejaan lama) karya M. Hasbie As Shiddieqy. Buku yang komplek untuk awal pemahaman terhadap ilmu Al Qur-an.

2. Ilmu-ilmu Al Qur-an : Media-media pokok dalam menafsirkan Al Quran, Karya M hasbie ashidiqiey.Menurut Penulisnya buku ini disarikan dari kitab Al Burhan (Imam az-Zarkasy), Al itqan (Imam Sayuti) dan Mabahits Fi Ulumil Qur-an( Prof.DR.Subehi Ash-Shalih)

3. Pengantar studi Ilmu Al Quran, karya Syaikh Manna' Al-Qaththan

4. Al Quran dan Ulumul Quran, karya Muhammad Chirzin M.Ag

Read More

Iman Kepada Para Rasul

Diposkan oleh Islam Wiki
Yaitu meyakini dengan sebenarnya bahwa Allah sungguh telah memilih dari hamba-hambaNya sebagai seorang Rasul, dan memberikan wahyu kepadanya, dan memerintahkan kepadanya untuk menyampaikan risalahNya sampai tidak ada umatnya yang bisa menyangkal kebenaran risalah yang dibawanya, dan bahwa para rasul diberikan mukjizat untuk menunjukan kebenaran risalah yang dibawanya.

Mengenai Rasul tersebut di dalam Alquran diantaranya: (AnNisa": 136)(AnNahl: 36)(AnNisa": 163).

Para Rasul
Sesungguhnya Allah SWT telah mengutus RasulNya untuk setiap umat. ( و لكل امة رسول )( Yunus: 47). Rasulullah pernah bersabda ketika ditanya tentang para Nabi: مائة وعشرون الفا والمرسلون منهم ثلاثما ئة و ثلا ثة عشر (HR. Bukhori dan Muslim)
Dan adapun para Rasul yang dijelaskan Allah yang disebut namanya dalam AlQuran ada 25 yaitu:
Adam, Idris, Nuh, Hud, Soleh, Ibrahim, Luth, Ismail, Ishak, Ya'qub, Yusuf, Ayub, Su'aib, Musa, Harun, Dzulkifli, Dawud, Suliaman, Ilyas, Alyas'a, Yunus, Zakariya, Yahya, 'Isa, Muhammad.

Muhammad SAW
Sesungguhnya Allah SWT telah mengutus seorang Rasul untuk menjelaskan apa yang diturunkan kepadanya(rasul), dan Rasul-rasul tersebut dikhususkan untuk umat tertentu.Nabi Musa diutus untuk bani israil, nabi Isa untuk kaum nasrani, dan setiap rasul untuk kaumnya saja. Akan tetapi berbeda untuk Nabi Muhammad, beliau diutus untuk seluruh umat manusia, karena beliau adalah Nabi dan Rasul terakhir yang diutus oleh Allah yang menyampaikan risalahNya yang sempurna, yang termaktub dalam AlQuran. ( وما أرسلنك الا رحمة للعلمين )(AlAnbiya": 107) ( ما كان محمد أبا أحد من رجا لكم و لكن رسولالله و خا تم النبين )( Al Ahzab: 40)
Rasulullah Bersabda: " كلكم يدخلون الجنة الا من ابى قالوا ومن يأبى يا رسول الله؟ قال من اطاعنى دخل الجنة ومن عصانى فقد أبى "( HR Bukhori).
Dan bersabda juga : " فضلت على الأ نبياء بست أعطيت جوامع الكلام و نصرت بالرعب و أحلت الى الغنا ئم وجعلت لي الأرض مسجدا طهورا و ارسلت إلى الخلق كافة و ختم بي النبيون " ( رواه مسلم و الترميذى

Kewajiban Kepada Para Rasul: (AnNisa': 80,150)

Read More

Iman Kepada Kitab-Kitab Allah

Diposkan oleh Islam Wiki

Pengertian Iman Kepada Kitab-Kitab Allah

Meyakini dengan tanpa keraguan bahwa kitab-kitab Allah yang suci yang diturunkan kepada para Rasul adalah kalam Allah.

Dalil yang menunjukan supaya beriman kepada kitab-kitabNya yaitu diantaranya : AnNisa' ayat 136 dan 163, Ali Imran 2-4.

Kitab dan Sohifah

Seungguhnya kitab dan sohifah dalam istilah syar'i keduanya adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Rasul-rasulnya dengan cara diwahyukan atau di balik tabir atau melalui perantara Jibril.

Dalam AlQuran tersebut ada 4 kitab Suci yang diturunkan Allah :
1. Taurat, adalah Kitab Suci yang diturunkan kepada Musa A.S.
2. Zabur, adalah Kitab Suci yang diturunkan kepada Dawud A.S
3. Injil, Adalah Kitab Suci yang diturunkan kepada Isa A.S.
4. Al Quran, Adalah Kitab Suci yang diturunkan kepada penutup para Nabi dan Rasul, yaitu Muhammad SAW.

Sohifah Yang diturunkan yaitu :
1. Sohifah yang diturunkan kepada Adam A.S.
2. Sohifah yang diturunkan kepada Syis A.S.
3. Sohifah yang diturunkan kepada Idris A.S.
4. Sohifah yang diturunkan kepada Ibrahim A.S
5. Sohifah yang diturunkan kepada Musa A.S.


Al Quran Al Karim

Adalah kitab Allah yang suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat semesta alam. Al Quran adalah mukjizat terbesar yang mampu memenuhi semua hajat manusia sampai akhir zaman. (Jika manusia mampu memahami maksud yang sebenarnya dari setiap ayat yang ada dalam Al Quran).

Kelebihan Alquran atas Kitab-Kitab sebelumnya:
  1. Dari segi turunnya: AlQuran diturunkan kepada Muhammad SAW dengan Haq, kemudian para sahabat memperolehnya dengan cara hafalan dan ditulis. (بالحق أنزلناه وبالحق نزل ) (Al isra" :105)
  2. Kandungan AlQuran sempurna, Yaitu menjadi pertimbangan kebenaran terhadap kitab-kitab sebelumnya, Apa-apa yang sesuai dengan Alquran maka itulah yang Haq. (و انزلنا إليك الكتاب بالحق مصدقا لما بين يديه من الكتاب ومهيمنا عليه )( Al Maidah: 48).
  3. AlQuran adalah satu-satunya kitab Suci yang selamat dari penyelewengan dan perubahan yang dilakukan oleh pengikutnya yang tak bertanggung jawab.( انا نحن نزلنا الذكر و انا له لحافظون ) (AlHijr: 9)
  4. Bahasa yang dipakai di dalam AlQuran sangat indah tidak akan ada yang mampu membuat ayat seperti itu. (Baca AlBaqarah: 23-24)
  5. AlQuran adalah petunjuk dan syifaaun. (baca Yunus: 57)
  6. AlQuran adalah Kitab yng pling sering dibaca Manusia.

Asmaul Quran - Naman lain Al-Qur'an

  1. Alkitab, karena ditulis dan dicatat. ( ذلك الكتاب لا ريب فيه )(AlBaqarah: 2)
  2. AlFurqon (pembeda), karena membedakan antara yang haq dan yang batil. (تبارك الذى نرل الفرقان على عبده ) (Alfurqon: 1)
  3. AlBayinah(penjelas), karena menjelaskan kepada manusia pengetahuan yang sohih. ( حتى تأتيهم البينه )(AlBayinah: 1)
  4. Addzikra, Karena mengingatkan manusia. ( انا نحن نزلنا الذكر و انا له لحافظون )
Read More

Dua Macam Akhlak

Diposkan oleh Islam Wiki
Dalam bukunya Drs. Barmawie menguraikan tentang 2 macam akhlak yaitu :

A. Al Akhlaaqul Mahmudah( Terpuji)
1. Amanah : dapat dipercaya
2. Aliefah : Disenangi
3. Al 'afwu : pema'af
4. Aniesatun : manis muka
5. Alkhairu : Baik
6. Al Khusyuu' : Tekun sambil menundukan hati
7. Ad Dhiyafah : menghormati tamu
8. Al Ghufraan : Suka memberi maaf
9. Al Hayaau : Malu perbuat tercela
10. Al Hilmu: menahan diri dari berbuat maksiat
11. Al Hukmu Bil'adli : Menghukum secara adil
12. Al Ikhwauu: Senang bersaudara
13. Al Ihsan : berbuat baik
14. Al 'Ifaafah: Memelihara kesucian diri
15. Al Muru'ah: berbudi tinggi
16. An Nadhaafah : bersih
17. Ar rahmah : belas kasih
18. As Sakhaau : Pemurah
19. As Salaam : Kesentosaan
20. As Sholihat : Bermal sholih
21. As Shabru : Sabar
22. Ash Shidqotu : Jujur
23. Asy Syaja'ah : Berani
24. At Ta'awun : Saling toong menolong
25. At Tawadhu' : Rendah hati
26. At Thadaru' ; Merendahkan diri terhadap Allah
27. Qona'ah : Merasa cukup dengan apa yang ada
28. 'Izatun Nafsi : Berjiwa kuat

B . Al Akhlakul Madzmuumah (Tercela)
1.Anaaniah : Egoistis
2. Al baghyu : lacur
3. Al bukhlu ; kikir
4. Al Buhtan : Mengada-adakan seustau yang tidak ada
5. Al Khamru : Peminum khamr
6. Al Khiyanah : Khianat
7. Adh Dhulmu : Aniaya
8. Al Jubun : pengecut
9. AL fawaahisy : Berbuat dosa besar
10. Al Gadhab : pemarah
11. Al Ghassyu : menipu
12. Al Ghiebah : Mengumpat , membicarakan keburukan orang lain
13. Al Ghina ; merasa tidak butuh orang lain
14. Al Ghurur : Mengelabui
15. Al Hayaatud Dunyaa: Lebih cinta dunia, lupa akherat
16. Al Hasad : dengki
17. Al Hiqdu : Dendam
18. Al Ifsaad : berbuat kerusakan
19. Al Intihar : Menjerumuskan diri ke dalam kesesatan
20. Al Israaf : berlebih-lebihan
21. Takabur
22. Al Kadzbu : Dusta
23. Alkufru : meningkari nikmat
24. Al liwaat : Homo sexual
25 Al mAkru : Penipuan
26. An Namiemah : mengadu domba
27. Qotlun nafsi : membunuh tanpa alasan yang dibenarkan agama
28. Ar Ribaa : memakan riba
29. Ar Riyaa': Mencari muka
30 : As Shikhriyah : berolok-olok
31. As Sirqoh : Mencuri
32. As Syahwat : mengikuti hawa nafsu
33. At Tabdzier : MEnyia-nyiakan ( Mubazir)

(penjelasan masing masing sifat bisa dibaca dalam buku karangan Drs. Barmawie Umary, Materi Akhlak)

Lainnya:
prioritas-amal-yang-kontinyu-atas-amal terputus

antara-sabar-dan-mengeluh

mencari-makna-bahagia

tiga-hal-yang-membinasakan

pembinaan-akhlak

terminologi-akhlak-menurut-al-ghazali

keutamaan-ilmu-atas-manusia

akhlak-dalam-al-quran

akhlak-dalam-sunnah

akhlak-di-dalam-ushul-fiqh

akhlak-terhadap-binatang.

akhlak-terhadap-flora-tumbuh-tumbuhan
Read More

Perkembangan Ilmu Fiqh - Tarikh Tasyri'

Diposkan oleh Islam Wiki

Tentang Tarikh At-Tasyri'

Dalam ilmu fiqh ada salah satu cabang ilmu yang disebut dengan Tarikh At-Tasyri', yang berisikan tentang perkembangan hukum Islam atau Fiqh.

Cabang ilmu ini sangat penting juga untuk dipelajari, karena kita akan lebih memahami tentang sejarah pembentukan hukum Islam.

sejarah hukum Islam

Periodisasi Hukum Islam

Dalam kajian buku-buku, Tarikh Tasyri' akan dijumpai periodesasi hukum islam atas dasar ciri-ciri khas dan hal-hal yang menonjol pada waktu tertentu, misalnya Abdul Wahab Khalaf membagi menjadi empat periode:
(1) Masa Rasulullah
(2) Masa Sahabat 
(3) Masa Penbukuan fiqh dan para imam Mujtahid, dan
(4) masa Taklid.

Sedangkan seorang sarjana Indonesia, A. Hanafi MA, menbagi menjadi lima fase
(1) Fase Permulaan hukum islam
(2) Fase persiapan hukum islam
(3) Fase pembinaan dan pembukuan hukum islam
(4) Fase kemunduran hukum islam
(5) Fase kebangunan hukum islam.

Daftar Pustaka
Djazuli, Prof. H. A, Ilmu Fiqh, Pengalian, perkembangan, penerapan hukum Islam, Prenada Media, Jakarta, 2005
Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, al dar Al Kawaetiyah, Mesir, 1968
_________________, Khulasoh Tarikh al Tasrik al Islami, Dar al Alawy Indonesia, Tampa tahun
Drs. Zarkasi Abdul Salam, Drs. Oman Faturrohman SW, Pengantar Ushul Fuqh 1 LESFI, Yogyakarta,1994

Read More

Perkembangan Hukum Islam Masa Imam Mujtahid

Diposkan oleh Islam Wiki

Hukum Islam Masa Mujtahid

Periode ini merupakan periode puncak dari keemasan zaman Islam yang berlangsung sejak akhir abad ke-7 sampai abad 10 M, periode ini ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan di dunia umat Islam.

Akibat dari luasnya wilayah umat Islam menyebabkan banyak persoalan baru yang belum pernah terjadi pada masa sebelumnya sehingga permasalahan yang dihadapi umat Islam makin banyak dan komplek, keadaan yang demikian memunculkan tantangan bagi para mujtahid untuk memecahkan hukum masalah-masalah tersebut.

Pada periode ini perkembangan ilmu fiqh atau hukum Islam sangat pesat dikarenakan:
  1. Wilayah Islam sudah sangat luas dari Tiongkok sampai Andalusia, sudah tentu diperlukan pengaturan hukum untuk menjadi pegangngan para Hakim dan para pemimpin pemerintahan, serta fatwa yang dibutuhkan oleh rakyat, untuk perundang-undangan dan fatwa-fatwa tidak ada sumber yang lain kecuali syaria’ah. Kondisi yang berbeda menyebabkan permasalahan setiap daerah yang dihadapi berbeda.
  2. Para ulama pada masa ini telah memiliki sejumlah fatwa dan cara berijtihad yang telah menjadi warisan dari generasi sebelumnya.
  3. Pada masa ini umat islam menpunyai keinginan keras agar segala sikap dan tingkah lakunya sesuai dengan dengan Syari’ah islam baik dalam ibadah mahdhah maupun dalam ibadah ghairu madhah ( muamalah dalam arti luas ) keadaan demikian mendorong para ulama untuk berijtihad llebih keras lagi
  4. Pada periode ini memang lahir para ulama yang menpunyai potensi mujtahid.



Hal yang diwariskan pada periode ini adalah:
  1. As Sunnah yang telah dibukukan
  2. Fikih yang telah dibukukan lengkap dengan dalil dan alasannya.
  3. Dibukukan nya ilmu Ushul Fikh
  4. Adanya dua aliran fikih yang menonjol pada periode ini yaitu yang terkenal dengan Madrsatul Al Hadist dan Madrasatu Ar Ra’yi.
Dalam periode ini lahir mazhab-mazhab fiqh ( aliran-aliran Fiqh) yang kemudian menyebar dan diikuti oleh oleh umat islam disegala penjuru dunia sampai sekarang . diantara pendiri-pendiri mazhab itu diantara lain:
1. Imam ja'far Shadiq
2. Imam Abu Hanifah
3. Imam syafi’i
4. Imam Malik bin Anas
5. Imam Ahmad bin Hambal

Daftar Pustaka
Djazuli, Prof. H. A, Ilmu Fiqh, Pengalian, perkembangan, penerapan hukum Islam, Prenada Media, Jakarta, 2005
Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, al dar Al Kawaetiyah, Mesir, 1968
_________________, Khulasoh Tarikh al Tasrik al Islami, Dar al Alawy Indonesia, Tampa tahun
Drs. Zarkasi Abdul Salam, Drs. Oman Faturrohman SW, Pengantar Ushul Fuqh 1 LESFI, Yogyakarta,1994


Read More

Masa Kebangkitan Dunia Islam

Diposkan oleh Islam Wiki
Masa Bangkitnya Dunia Islam - Periode ini berlangsung mulai sejak abad ke 19, yang merupakan kebangkitan kembali umat islam, terhadap periode sebelumnya, periode ini ditandai dengan gerakan pembaharuan pemikiran yang kembali kepada kemurnian ajaran islam.

Tanda-tanda kemajuan:

1. Dibidang perundang-undangan
Periode ini dimulai dengan berlakunya Majalah al Ahkam al Adliyah yaitu Kitab Undang-undang Hukum perdata Islam pemerintahan Turki Usmani pada Tahun 1876 M.

2. Dibidang pendidikan.
Diperguruan-perguruan agama Islam di Mesir, Pakistan, maupun di Indonesia dalam cara mempelajari fiqh tidak hanya dipelajari tertentu, tetapi juga dipelajari secara perbandingan, bahkan juga dipelajari hukum adat dan juga sistem hukum eropa. Dengan demikian diharapkan wawasan pemikiran dalam hukum dan mendekatkan pada hukum islam dan hukum yang selama ini berlaku.

Daftar Pustaka
Djazuli, Prof. H. A, Ilmu Fiqh, Pengalian, perkembangan, penerapan hukum Islam, Prenada Media, Jakarta, 2005
Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, al dar Al Kawaetiyah, Mesir, 1968
_________________, Khulasoh Tarikh al Tasrik al Islami, Dar al Alawy Indonesia, Tampa tahun
Drs. Zarkasi Abdul Salam, Drs. Oman Faturrohman SW, Pengantar Ushul Fuqh 1 LESFI, Yogyakarta,1994
Read More

Masa Kemunduran Dunia Islam

Diposkan oleh Islam Wiki
Masa Kemunduran Dunia Islam - Periode ini berlangsung mulai dari abad 10/11 sampai abad 19 M. Pada periode ini para ahli hukum  dalam menggali hukum banyak mengikuti pendapat dan mempelajari pikiran dan pendapat dalam mazhab yang telah ada, mereka mempertahankan pendapat kebenaran mazhabnya, seolah-olah kebenaran hanya milik mazhabnya yang dianut.

Pada masa ini berkembang sikap taklid yaitu mengikuti pendapat suatu mazhab tanpa mengetahui alasan-alasanya atau dasar-dasarnya , dan hilangnya semangat ijtihad.

Faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran

1. Kemunduran di bidang politik.

2. Dengan dianutnya pendapat mazhab tanpa pikiran yang kritis serta diangapnya sebagai yang mutlak dan benar menyebabkan orang menjadi merasa cukup dengan hal itu.

3. Dengan banyaknya kitab-kitab fikih para ulama dengan mudah menemukan jawaban-jawaban terhadap masalah-masalah yang telah ada.

4. Dengan jatuhnya Cordoba dan jatuhnya Bagdad sebagai sebagai pusat kebudayaan Islam, menbuat denyut kebudayan islam menjadi berhenti.

Daftar Pustaka
Djazuli, Prof. H. A, Ilmu Fiqh, Pengalian, perkembangan, penerapan hukum Islam, Prenada Media, Jakarta, 2005
Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, al dar Al Kawaetiyah, Mesir, 1968
_________________, Khulasoh Tarikh al Tasrik al Islami, Dar al Alawy Indonesia, Tampa tahun
Drs. Zarkasi Abdul Salam, Drs. Oman Faturrohman SW, Pengantar Ushul Fuqh 1 LESFI, Yogyakarta,1994
Read More

Iman Ja’far Shadik

Diposkan oleh Islam Wiki
Nama lengkapnya Ja’far bin Muhammad al Baqir, bin Ali Zainal Abidin bin Husaen bin Ali bin Abu Thalib. Beliau dilahirkan pada tahun 80 H, sedangkan ibunya bernama Ummul Farfah binti al Qassin bin Muhammad bin Abu Bakar Shidiq.

Beliau adalah ulama yang banyak bidang ilmu, seperti Ilmu filsafat, Tasawuf, Kimia, Fiqh, Ilmu Kedokteran , beliau juga adalah imam ke-enam dari dua belas imam dalam madzhab Syi’ah Imamiyah. Dibidang Tasawuf beliau adalah Syaikh yang besar, sedangkan dalam bidang Kimia beliau diangap sebagai Pelopor ilmu Kimia, beliau adalah guru dari Jabir bin Hayyan, ahli Kimia dan Kedokteran Islam.

Sumber Hukum madzhab Ja’fari adalah al Qur’an, Sunnah, Ijma’, ’Aql. Sunnah yang menjadi sumber hukum adalah Sunnah yang di riwayatkan oleh imam-imam yang diakui Pengikut madzah Syi’ah Ja’fari terdapat di Iran, dan negara sekitarnya, Turki, Syiria, dan Afrika Barat.

Daftar Pustaka
Djazuli, Prof. H. A, Ilmu Fiqh, Pengalian, perkembangan, penerapan hukum Islam, Prenada Media, Jakarta, 2005
Abdul Wahab Khalaf, Khulasoh Tarikh al Tasrik al Islami, Dar al Alawy Indonesia, Tampa tahun
Drs. Zarkasi Abdul Salam, Drs. Oman Faturrohman SW, Pengantar Ushul Fuqh 1 LESFI, Yogyakarta,1994
Read More

Imam Malik bin Anas

Diposkan oleh Islam Wiki
Imam Malik dilahirkan di Madinah. Nama Lengkapnya Malik bin Anas bin Amar. Beliau adalah orang yang shaleh, sangat sabar, ikhlas berbuat, mempunyai daya ingatan yang kuat, serta kokoh dalam pendirian. Beliau ahli di dalam Fiqh dan Hadist. Diantara guru-guru beliau adalah Ibn Hurmuz, Rabi’ah, Yahya Ibnu Saad Anshari, damn ibnu syihaab Azhuri.

Imam Malik dikenal sangat hati-hati dalam memberikan fatwa, yang didahului dengan meneliti hadist-hadist Rasulullah, dalam penetapan hukum Imam Malik menggunakan sumber hukum Islam yaitu Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’ Ulama Madinah, Fatwa Sahabat, Qiyas, Maslahah Al Mursalah.

Kitab yang dinisbat kepada beliau adalah al Muwatho' yang berisikan tentang hadist sekaligus juga fikh. Mazhab ini banyak dianut di banyak bagian penjuru dunia diantaranya Maroko, Tunisia, Mesir, Sudan, Kuwait, Qatar, Bahrain.

Daftar Pustaka
Djazuli, Prof. H. A, Ilmu Fiqh, Pengalian, perkembangan, penerapan hukum Islam, Prenada Media, Jakarta, 2005
Abdul Wahab Khalaf, Khulasoh Tarikh al Tasrik al Islami, Dar al Alawy Indonesia, Tampa tahun
Drs. Zarkasi Abdul Salam, Drs. Oman Faturrohman SW, Pengantar Ushul Fuqh 1 LESFI, Yogyakarta,1994
Read More

Imam Ahmad bin Hambal

Diposkan oleh Islam Wiki
Imam Ahmad adalah pendiri Mazhab Hambali dengan nama lengkapnya adalah Abu abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hilal Al Syaibani. Beliau belajar kepada Abu Yusuf murid abu Hanifah , dan juga berguru kepad Imam Syai’i dan teryata perhatiannya kepada hadist lebih besar. Beliau belajar Hadist di Baghdad, Basrah, Kufah, Mekkah, Madinah, dan Yaman.

Kitab hadist yang beliau karang adalah Musnad Ahmad bin Hambal. Walupun perhatiannya dicurahkan kepada hadist dari pada fiqh, ini berarti beliau tidak memakai fiqh, bahkan beliau memiliki warna yang tersendiri dalam cara berijtihad.

Dasar-dasar yang menjadi sumber hukum islam madzhab Hambali adalah al Qur’an, as Sunnah, Fatwa para sahabat, hadist yang lemah, qiyas. Madzhab Hambali banyak dianut di beberapa negara di antaranya Saudi Arabia, Libanon, Syiria, dan Beberapa negara Afrika.

Daftar Pustaka
Djazuli, Prof. H. A, Ilmu Fiqh, Pengalian, perkembangan, penerapan hukum Islam, Prenada Media, Jakarta, 2005
Abdul Wahab Khalaf, Khulasoh Tarikh al Tasrik al Islami, Dar al Alawy Indonesia, Tampa tahun
Drs. Zarkasi Abdul Salam, Drs. Oman Faturrohman SW, Pengantar Ushul Fuqh 1, LESFI, Yogyakarta,1994
Read More

Imam Syafi’i

Diposkan oleh Islam Wiki
Beliau dikenal sebagai pendiri madhab Syafi’i dengan Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Idris bin Syafi’i al Quraisyi. Beliau dilahirkan di Ghaza pada Tahun 150 H bertepatan dengan meningalnya Imam abu Hanifah.

Beliau ketika umur 10 tahun dibawa Ibunya ke Mekkah, ketika itu beliau sudah hafal Al Qur’an. Beliau berguru pada Sufyan bin Uyanah dan Muslim bin Khalid, setelah itu ia pergi ke Madinah untuk berguru kepada Imam Malik, beliu juga berguru kepada Muhammad bin Hasan Ayaibani murid Abu Hanifah di Irak.

Beliau kemudian bermukim di Mekkah selama tujuh tahun kemudian kembali ke Bagdad. Dan beliau menberikan pelajaran kepada Murid-muridnya, setelah dua tahun di Bagdad beliau pergi ke Madinah kemudian pada tahun 198 H beliau kembali lagi ke Bagdad dan dilanjutkan ke Mesir tahun 199 H.

Di Mesir beliau menberikan fatwa-fatwanya kemudian dikenal dengan nama Qaul Jaddid, sedang pada saat di Bagdad disebut dengan Qaul Qadim, beliau meninggal pada tahun 204 H di Mesir.

Beliau adalah ulama besar yang manggabungkan antara metode ijtihadnya Imam Malik dengan Metodenya Imam Abu Hanifah, sehingga menemukan ijtihadnya yang mandiri. Beliu sangat berhati-hati dalam menberikan fatwa, sehingga fatwanya itu adalah keseimbangan antara rasio dan rasa.

Diantara kitab yang beliu karang adalah Ar Risalah, yang merupakan kitab ushul fiqh yang pertama kali dikarang dan karenanya Imam Syafi’i dikenal sebagi peletak ilmu ushul fiqh, kitab Al Umm, kitab ini berisi tentang masalah-masalah fiqh yang dibahas berdasarkan pokok pikiran beliu.

Dasar yang menjadi sumber hukum adalah al Qur’an, Sunnah, Ijma’ Qiyas, dan istidlal. Madzab ini dianut umat islam di afrika Utara, Mesir, Saudi Arabia, Yaman, Libanon, Palestina, Irak, Pakistan, Asia Tengara termasuk Indonesia.

Daftar Pustaka
Djazuli, Prof. H. A, Ilmu Fiqh, Pengalian, perkembangan, penerapan hukum Islam, Prenada Media, Jakarta, 2005
Abdul Wahab Khalaf, Khulasoh Tarikh al Tasrik al Islami, Dar al Alawy Indonesia, Tampa tahun
Drs. Zarkasi Abdul Salam, Drs. Oman Faturrohman SW, Pengantar Ushul Fuqh 1 LESFI, Yogyakarta,1994

Read More

Imam Abu Hanifah

Diposkan oleh Islam Wiki
Ia adalah pendiri madzhah Hanafi, beliau dilahirkan di Kuffah pada tahun 80 H, dengan nama lengkap Abu Hanifah An Nu’man bin Tsabit bin Zufiat al Tamimi. Keluarga beliau adalah keluarga pedagang, tetapi beliu sejak kecil sangat rajin menpelajari ilmu Al Qur’an, Hadist dan Fikih. Beliau belajar kepada Anas bin Malik, Abdullah bin Auf, Abu Thufail, Humad bin Abu Sulaiman, setelah guru-gurunya wafat beliu mulai mengajar di Kufah.

Yang menonjol dari fiqh imam Abu Hanifah ini antara lain :
1. Sangat rasional, memintingkan maslahat, dan manfaat
2. Lebih mudah dipahami daripada mazhab yang lain
3. Lebih liberal sikapnya terhadap dzimmi(warga negara nonmuslim)

Hal ini dapat dipahami karena cara beristinbat Abu Hanifah selalu memikirkan dan menperhatikan apa yang ada dibalik nash yang tersurat yaitu illat-illat dan maksud-maksud hukumnya. Sedangkan untuk masalah –masalah yang tidak ada nashnya beliau mengunakan qiyas, istihsan, Urf.

Kitab yang dinisbatkan pada beliau adalah Fiqh al Akbar, al Alim Al Muta’alim, dan Musnad , sedangkan kitab-kitab yang ditulis oleh murid-muridnya diantaranya al Jami al Shahir, al Jami’ al Kabir dan lain-lain.

Madzhab Hanafi banyak dianut umat islam di Pakistan, India, Afganstan, Turki, Asia Tengah, Mesir, Brasil, dan Amerika Latin.

Daftar Pustaka
Djazuli, Prof. H. A, Ilmu Fiqh, Pengalian, perkembangan, penerapan hukum Islam, Prenada Media, Jakarta, 2005
Abdul Wahab Khalaf, Khulasoh Tarikh al Tasrik al Islami, Dar al Alawy Indonesia, Tampa tahun
Drs. Zarkasi Abdul Salam, Drs. Oman Faturrohman SW, Pengantar Ushul Fuqh 1 LESFI, Yogyakarta,1994
Read More

Al Qur'an Dalam Konteks Ushul Fiqh

Diposkan oleh Islam Wiki
Al Qur’an merupakan sumber fiqh yang pertama. Al Qur’an adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, yang tertulis dengan lafazd bahasa arab, yang sampai pada kita secara mutawatir dan membacanya mengandung nilai ibadah, dimulai dengan surat Al Fatihah dan diakhiri dengan surat An Nas.

Hukum yang terkandung dalam Al Qur’an

  1. Hukum-hukum itiqodiyah, yaitu hukum-hukum yang berhubungan dengan keimanan kepada Allah, kepada Malaikat, Kepada kitab-kitabNya, kepada para Rasul-rasulNya, Kepada hari akhir.
  2. Hukum-hukum Khuluqiyah, yaitu hukum yang berhubungan dengan Akhlak.
  3. Hukum-hukum Amaliyah, yaitu hukum yang berkaitan dengan perbuatan manusia

Kedudukan al Qur’an sebagai dalil dan kehujjahanya

  1. Kedudukanya
    Para ulama tidak berbeda pendapat tentang kedudukan Al Qur’an sebagi sumber pertama dari segala dalil, al Qur’an merupakan dasar dari segala dalil yang ada karena semua dalil yang ada pada intinya kembali lagi ke Al Qur’an.
  2. Kehujjahanya.
    Al Qur’an sebagai sumber dan dasar islam (dalil). Merupakan hujjah yang paling kuat, al Qur’an sebagai landasan hukum tidak memerlukan bukti, karena Al Qur’an menpunyai i’jaz, yakni suatu kekutan yang dapat menunjukan menetapkan kelemahan pihak lawan, bukti i’jaz al Quran antara lain:
    1. Adanya penawaran untuk mengadakan kompetisi.
    2. Adanya ayat-ayat al Qur’an mengandung tantangan bagi orang-orang yang menentang kerasulan Muhammad dan wahyu yang dibawanya.
    3. Tidak adanya kesangupan kaum musyrikin untuk menbuat susunan seperti Al Qur’an

Adapun unsur-unsur i’jaz yang ada di dalam Al Qur’an antara lain :

  1. Ketingian kesusastraan dan mendalami isi al Qur’an.
  2. Mengabarkan tentang umat dahulu kala, seperti kaum Ad kaum Samud kaum Ibrahim. Dan tentang Fir’un dan kisah yang lainnya
  3. Memberi kabar tentang hal-hal yang gaib, misdalnya peristiwa-peristiwa yang belum diketahui oleh manusia
  4. Keilmiahan . al Qur’an manpu menyikap rahasi ilmu pengatahuan secara berangsur-angsur

Daftar Pustaka
Djazuli, Prof. H. A, Ilmu Fiqh, Pengalian, perkembangan, penerapan hukum Islam, Prenada Media, Jakarta, 2005
Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Ushul Fiqh, al dar Al Kawaetiyah, Mesir, 1968
Drs. Zarkasi Abdul Salam, Drs. Oman Faturrohman SW, Pengantar Ushul Fuqh 1. LESFI, Yogyakarta,1994


Read More

Materi Studi Zakat

Diposkan oleh Islam Wiki
Zakat menjadi salah satu penopang kejayaan Islam pada masa Awalnya, akan tetapi pada masa ini zakat tidak lagi berfungsi semestinya. Oleh karena itu perlu kiranya umat Islam unutk memahami ulang tentang zakat serta pelaksanaannya, sehingga zakat dapat berfungsi lebih baik.

Berikut ini adalah materi zakat yang bisa untuk kita pahami:
studi Zakat bagian.1



Materi Zakat Bagian 2

Materi Zakat Bagian 3

Materi Zakat Bagian 4

Materi Zakat Bagian 5
Read More

Iman Kepada Malaikat-malaikatNya

Diposkan oleh Islam Wiki
Pengertian
Iman Kepada Malaikat yaitu meyakini tanpa ragu di dalam hati dan pikiran bahwa selain menciptakan manusia Allah juga mneciptakan malaikat dari cahaya, dan bahwa malaikat itu adalah makhluk yang paling taat dan tidak sekalipun berbuat maksiat.

Dalil:
"Dan barang siapa yang kafir terhadap Allah, malaikat-malaikatNya , kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya dan hari akhirat maka sungguh dia dalam kesesatan yang nyata". (AnNisa': 136)
"Barang siapa menjadi musuh Allah dan malaikat-malaikatNya dan Rasul-rasulNya dan jibril dan mikail maka Sungguh Allah musuh orang-orang kafir". ( AlBaqarah: 98)


Sifat-sifat Malaikat
1. Wujudnya halus tak nampak mata "خلق الملائكة من نور " (HR.Muslim)
2. Tidak laki-laki dan tidak perempuan dan tidak menikah. (lihat Asshafat:149-152)
3. Memiliki ajnihah. Lihat Surat Fathir ayat 1.
4. Hamba Allah yang mulia, tidak sekalipun menentang perintah Allah .( At Tahrim: 6)

Tugas-tugas Malaikat
1. Jibril, Bertugas menyampaikan whayu ilahi kepada rasul dari Adam AS sampai Muhammad SAW.
2. Mikail, yang membagi rizki,mengatur hujan, angin dan bintang.
3. Israfil, yang meniup sangkakala, tiupan pertam terjadi kiamat dan tiupan kedua manusia dibangkitkan (yaumul ba'ts)
4. Izarail, Yang mencabut ruh manusia
5. Raqib dan 'Atid, mencatat amal perbuatan manusia
6. Munkar dan Nakir, Menanyai manusia dalam kubur.
7. Malik, Yang menjaga neraka
8. Ridwan, yang menjaga surga

Read More

Iman Kepada Allah

Diposkan oleh Islam Wiki
Pengertian
Adapun yang dimaksud dengan Iman kepada Allah SWt adalah Membenarkan dengan seyakin-yakinnya dalam hati dan pikiranya terhadap adanya Allah SWT sebagai pencipta seluruh jagad Alam dan beserta isinya. Juga mempercayai bahwa Allah memiliki seluruh sifat dan Asma yang sebagaimana telah disebutkan dalam AlQuran dan Hadist, tanpa adanya keraguan sedikitpun.

Dalil naqli mengenai adanya Allah tersebut dalam banyak ayat, diantaranya yaitu surat AlA'raf ayat 54 dan AlBaqarah 186.
Adapaun dalil 'aqli yang menunjukan adanya Tuhan semesta Alam:
1. Adanya alam yang maha luas ini beserta segala isinya dengan segala keindahanya dan keseimbangannya akan menuntun dan menunjukan bahwasanya ada Sang Penciptanya.
2. Adanya alquran yang berisi petunjuk kebenaran yang tak diragukan lagi oleh pikiran setiap manusia kecuali orang-orang yang tertutup oleh nafsunya. Bahkan tak ada satupun makhluk di dunia ini yang dapat membuat ayat-ayat semisal AlQuran.

Ilmu Sebagai Jalan Iman
Jika manusia ingin memiliki iman yang benar dan mantap maka harus dengan ilmu. Orang yang hanya ikut-ikutan beriman tanpa dilandasi ilmu maka pastilah keimanannya itu akan cepat gonjang ketik mengalami ujian yang yang rumit, hingga akhirnya dia akan murtad. " Dan diantara manusia da orng yang menyembah Allah berada di tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan tetaplah ia dalam keadaan itu dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, bebaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akherat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (Al Hajj: 11)

Asmaul husna
Hanya bagi Allah lah nama-nama yang mulia. Para ulama mensepakati bahwa bagi Allah ada 99 asmaulhusana sesuai dengan asma-asma yang tersebut dalam AlQuran.
" dan bagi Allah lah asmaul husna itu maka berdoalah dengan menyebut nya (Nama-namaNya Yang Mulia).(AlA'raf: 180)

Read More