4 Pola pemikiran di dunia islam

1. Pemurnian (purifikasi)

Pola pemikiran ini terbagi menjadi atas dua sasaran. Pertama pemurnian akidah, iman, Tauhid umat islam dari berbagai hal yang mengotorinya. Kedua, memurnikan sufisme dari berbagai pratek yang menyimpang, perilaku aneh dan mengarah pada syirik. Kelompokyang melakukan pemurnian disebut sebagi kaum pemurni ( puritan). 

Alasan utama kelompok pemurni pemurni adalah kemunduran umat islam karena akidah yang kotor oleh berbagai kepercayaan, seperti tahayul, bid’ah dan kurafat, akidah yang kotor tidak dapat memancarkan kekuatan pendorong bagi umat islam untuk maju. contoh gerakan ini pemurnian adalah Wahabi di Saudi arabia yang di pelopori Muhammad bin Abdul Wahab.

Gerakan pemurnian, baik yang memurnikan akidah maupun sufisme, menpunyai tujuan ganda, ke luar dan ke dalam. Ke dalam, membersihkan ajaran agama islam dari berbagai tambahan yang tidak sesui dengan ajaran agama islam dan akidah yang murni, yang telah berakibat agama ini tidak lagi pada kemaslahatan umum, tetapi hanya pada kebaikan individu. 

Ke luar, mencegah umat islam keterpukuan terhadap peradaban dan kebudayaan barat sekaligus menbangkitkan semangat untuk melepaskan diri dari penjajah Barat yang menyebabkan kebodohan , kemiskinan dan keterbelakanganya

2. Pembaratan ( Westernisasi)

Kelompok yang disebut kaum pembarat ini berpendapat bahwa agar umat islam dapat maju dan manpu bersaing dengan barat, baik tidak ada cara lain kecuali harus harus bertindak seperti dilakukan oleh orang barat. Kasus wasternisasi di dunia islam terjadi di Turki.

3. Tradisionalisasi

yakni model pemikiran yang berpendapat bahwa memajukan umat islam haruslah dengan mencotok prilaku Nabi, para sahabat dan para ulama salaf dari berbagai aspeknya, Sebab merekalah contoh terbaik dan umat islam wajib menjadikan model. 

Dalam hubunganya dengan pemahaman terhadap ajaran islam, kelompok ini mengganjurkan umat islam di manapun berada dan kapauin berpijak pada pemahaman yang telah di tunjukan oleh Nabi, dsahabat dan ulam salaf . kelomopok ini disbut dengan kelompok tradionalis, dengan semboyan kembali ke Al Qur’an dan al Hadist

4. Pembaharuan (modernisasi)

Pelakunya disebut kaum modenis, bagi kelompok ini semangat kembali ke al Qur’an dan Hadist tidak harus dimaknai mengembalikan perilaku pemahaman agama islam sebagai yang dicontoh Nabi, sahabat, dan ulama salaf sebagaimana kaum tradisionalis, tetapi disesuaikan oleh dengan keadaan dan tuntutan zaman, sejauh tetap mencerminkan ke universal Islam. Dengan konteks ini, memahami ajaran islam secara kontekstual dengan mengunakan ijtihad merupakan keharusan.

Ada dua pertanyaan mendasar yang merisaukan kaum pembaharu. Pertama mengapa umat islam mundur, padahal sebelumnya mengalami kejayaan? Kedua , mengapa ajaran Islam seperti kehilangan vitalitas dan dinamika, seakan-akan tidak manpu menjadi kekuatan pengerak dan pendorong ke arah kemajuan.

kedua pertanyana tersebut berusaha dicari jawabanya oleh kaum pembaharu. Di antara jawaban yang ditemukan adalah:

  • Umat Islam alami kemunduran karena dilanda kemiskinan kebodoha,, dan terpecah belah. Kondisi ini yang menyebabkan barat menjajah umat Islam, kebodohan kemiskinan, dan keterbelakangan bukan disebabkan oleh penjajah, tetapi karena disebabkan sikap apatis umat Islam terhadap ilmu pengetahuan, dan hanya terpaku pada ilmu pengetahuan agama yang sempit.
  • Islam seperti kehilangan vitalitas dan diamika karena Islam yang di amalkan tidak lagi sederhan dan luwes seperti yang diajarkan Nabi, tetapi telah ditambah-tambah sehingga menjadi kompleks, menberatkan, dan lamban.
  • Dilepaskannya hak berijtihad menjadikan umat Islam mengalami stagnasi pemikiran.
  • Semboyan kembali ke al Qur’an dan Sunnah hanya dimaknai sebagai nostalgia kepada kehidupan masyarakat islam periode awal.
  • Sebagian umat islam mengagap kaadaan umat islam dijalani sebagai takdir dan ujian keimanan.

Back To Top